Panduan Budidaya Jati Belanda Secara Mudah

7 views

tanaman jati belandaSaat ini, masih jarang orang yang melakukan budidaya jati belanda. Padahal industri jamu sangat membutuhkan daun dari tanaman ini sebagai bahan baku jamu pelangsing badan. Sehinga prospek membudidayakan tanaman jati belanda masih sangat menjanjikan.

Teknik budidaya tanaman jati belanda meliputi aktivitas pokok berikut ini :

Penyiapan Bibit

Pada dasarnya tanaman jati belanda dapat diperbanyak secara generatif menggunakan biji dan vegetatif dengan setek ataupun cangkok. Tingkat keberhasilan perbanyakan dengan cangkok dan setek relatif rendah, sehingga pada umumnya dilakukan dengan biji. Biji diperoleh dari buah yang sudah tua. Secara alami, buah jati belanda yang sudah tua akan pecah dengan sendirinya dan melemparkan biji – bijinya yang kecil, tersebar ke sekitar tempat tumbuh pohon induknya. Benih disiapkan dan dipiih yang bernas. Benih merupakan bahan tanaman berupa biji yang berasal dari biji terpilih. Syarat benih yang baik adalah ukuran atau besarnya seragam, murni atau tidak tercampur dengan jenis lain atau kotoronan dan daya kecambahnya tinggi (>80%).

Biji jati belanda sebaiknya dikeringkan dengan cara dijemur hingga kadar air benih mencapai 12 – 13%. Selanjutnya, benih dikecambahkan dahulu dalam bak persemaian yang berisi campuran pasir dan kompos dengan perbandingan 1 : 1. Benih jati belanda yang sudah berkecambah disemaikan dalam polybag yang berisi media semai berupa campurn tanah halus dan pupuk kandang (1 : 1). Polybag berisi bibit tanaman jati belanda disimpan secara berjajar di atas bedengan atau bidang tanah yang rata. Pada tempat persemaian tersebut dipasang tiang – tiang, palang – palang dan dilengkapi atap persemaian dari plastik atau paranet. Bibit jati belanda dipelihara secara intensif, terutama kegiatan pemupukan dan penyiangan gulma. Bibit jati belanda yang telah berumur 6 minggu dapat dipindahkan ke kebun.

Penyiapan Lahan

Penyiapan lahan untuk budidaya tanaman jati belanda biasanya langsung dalam bentuk lubang tanam sesuai dengan jarak tanam yang akan disiapkan, yaitu 1 x 1 m atau 2 x 2 m, tergantung tingkat kesuburan tanah. Setelah jarak tanam ditentukan, dilanjutkan dengan pengajiran dan pembuatan lubang tanam. Ukuran lubang tanam minimal 60 x 60 x 60 cm. Pada tanah berat atau liat dan miskin unsur hara diperlukan ukurang lubang tanam yang lebih besar. Tiap lubang tanam diberi pupuk dasar yang terdiri atas pupuk kandang sebanyak 5 – 10 kg dan TSP atau SP-36 sebanyak 10 gram.

Penanaman

Waktu tanam sebaiknya ada awal musim hujan agar tersedia air secara memadai pada awal pertumbuhan bibit tanaman jati belanda. Cara menanamnya, mula-mula bibit jati belanda dalam polybag dikeluarkan bersama akar dan media semainya dari polybag, kemuudian bibit tersebut langsung dimasukkan ke lubang tanam yang tersedia sambil ditutup dengan tanah dan dipadatkan pelan – pelan sampai rata. Seusai tanam segera tanah disekeliling batang tanaman jati belanda disiram hingga cukup basah (lembap) agar bibit tanaman jati belanda cepat tumbuh dengan baik.

Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman difokuskan pada kegiatan pengairan, penyulaman, penyiangan, pemuukan dan pengendalian hama penyakit.

  • Pengairan atau penyiraman bertujuan untuk menjaga tanaman jati belanda tidak layu, tanah tetap lembap, mengatur temperatur tanah, penambah dan pelarut unsur hara. Penyiraman sebaiknya sore hari. Cara mengairi dengan menggunakan ember atau gayung atau sprinklier untuk menyiram atau menyemprotkan air bersih hingga tanah di sekeliling tajuk tanaman jati belanda cukup basah (lembap).
  • Penyulaman dilakukan untuk mencukupkan jumlah atau populasi tanaman per satuan luas. Kegiatan menyulam biasanya seawal mungkin pada umur 7 – 15 hari setelah tanam. Cara menyulam, mengganti tanaman jati belanda yang mati atau tumbuhnya kerdildengan bibit tanaman jati belanda yang baru.
  • Penyiangan bertujuan untuk menghilangkan gulma, tata udara dalamĀ  tanah dapat berlangsung dengan baik dan perkembangan akar tanaman jati belanda menjadi lebih baik. Penyiangan pertama dilakukan pada waktu tanaman jati belanda berumur 2 – 4 minggu setelah tanam, selanjutnya diulang setiap 1 – 2 bulan sekali, tergantung keadaan pertumbuhan gulma. Cara menyiangi dengan menggunakan cangkul, gulma dibongkar bersama akar – akarnya kemudian dibuang atau dibakar.
  • Pemberian pupuk dilakukan tiap 1 – 2 bulan sekali dengan pupuk organik, seperti pupuk kandang atau kompos sebanyak 10 kg/pohon. Dapat pula ditambahkan pupuk anorganik berupa NPK 30 – 50 g yang dilarutkan dalam 200 liter air, kemudian larutan pupuk dikucurkan pada tanah disekeliling tajuk tanaman jati belanda sebanyak 1 – 2 liter/pohon.
  • Pengendalian hama dan penyakit dilakukan secara terpadu, yaitu menjaga kebersihan (sanitasi) kebun, perbaikan aerasi dan drainase tanah, pemangkasan bagian taaman yang terserang berat, aplikasi pestisida nabati bila ditemukan serangan hama dan penyakit cukup serius.

Panen

Produk utama dari tanaman jati belanda untuk bahan obat tradisional adalah bagian daunnya. Daun jati belanda memang dikenal mempunyai banyak manfaat bagi kesehatan. Panen daun pertama dilakukan ada tanaman yang sudah berumur 2 – 3 tahun. Panen dilakukan dengan cara memotong ranting tanaman menggunakan gunting atau sabit, kemudian daun dipetik dan dikumpulkan dalam wadah. Selanjutnya, produksi daun ditimbang untuk mengetahui hasil produksinya. Sebagai perdoman, produksi daun jati belanda yang ditanam dengan jarak 1 x 1 m menghasilkan daun produksi kering 12.226 kg/ha. Semakin tua tanaman akan semakin banyak produksinya. Pada umur 5 – 6 tahun tanaman jati belanda akan berbuah dan menghasilkan biji sebagai bahan perbanyakan tanaman.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *