Budidaya Kumis Kucing

Nusabudidaya – Kumis kucing merupakan salah satu tanaman obat herba yang banyak dibutuhkan dalam industri obat tradisional di Indonesia. Oleh karena itu, budidaya kumis kucing memiliki peluang yang sangat baik mengingat kebutuhan akan daun tanaman ini cukup banyak.

Budidaya tanaman kumis kucing saat ini masih dilakukan secara sambilan, yaitu dengan menanammnya di sela-sela tanaman lain. Banyak juga yang menanam tanaman ini sekedar di pinggir-pinggir halaman tanpa menggunakan teknik budidaya yang optimal bagi peningkatan produksi daun dan mutu simplisa yang dihasilkan.

Pendahuluan

Cukup banyak klaim yang menunjukkan manfaat kumis kucing dalam pengobatan tradisional, seperti untuk menyembuhkan sembelit, batuk, encok, masuk angin, batu ginjal, kencing manis dan albuminuria. Kumis kucing layak dijadikan tanaman obat unggulan untuk dikembangkan dalam industri obat fitokarma.

Dewasa ini dengan semakin maraknya berbagai jenis penyakit dan permasalahan akibat penggunaan bahan kimia, timbul kecenderungan dalam masyarakat untuk menggunakan bahan-bahan tradisional dari alam untuk pengobatan berbagai macam jenis penyakit. Permintaan Obat tradisional cenderung meningkat. Tingginya tingkat penggunaan tanaman kumis kucing sebagai obat tradisional menuntut pengembangan metode budidaya dan pengolahan pasca panen komoditas ini yang dapat memberikan hasil secara optimal, baik dalam kualitas maupun kuantitas.

Syarat Tumbuh Tanaman Kumis Kucing

Tanaman kumis kucing mempunyai daya adaptasi luas terhadap lingkungan tumbuh, baik faktor iklim maupun tanah. Tanaman kumis kucing dapat tumbuh dengan mudah di lahan-lahan pertanian, terutama tanah andosol, latosol dan grumosol. Tanaman ini dapat tumbuh dengan baik di dataran rendah sampai dataran tinggi, tetapi paling optimum pada ketinggian 500 – 1.200 m dpl, dengan suhu udara 20 – 30º C, kelembapan (rH) 60 – 80%, curah hujan 3.000 mm/tahun dan sinar matahari penuh tanpa ternaungi atau tempat terbuka. Tanaman kumis kucing yang di tanam di tempat yang ternaungi memiliki kadar ekstrak daun yang rendah.

Penyiapan Bibit Untuk Budidaya Kumis Kucing

Cara yang paling mudah dan biasadilakukan untuk mengembangbiakkan kumis kucing adalah perbanyakan vegetatif dengan setek batag atau cabang. Bahan tanaman diambil dari rumpun yang tumbuh normal, subur dan sehat. Cara penyiapan bibit yang berasal dari setek batang atau cabang adalah sebagai berikut :

  1. Pilih batang atau cabang yang tidak terlalu tua atau muda dan sudah berkayu.
  2. Potong batang atau cabang dengan pisau tajam atau gunting pangkas yang bersih.
  3. Potong-potong batang atau cabang menjadi setek berukuran panjang 15  -20 cm dan berbuku 2 – 3 ruas.
  4. Buang atau pangkas sebagai daun untuk mengurangi penguapan air.

Kebutuhan bibit untuk budidaya kumis kucing dipengaruhi jarak tanam dan kesuburan tanah. Bila dengan jarak tanam 40 x 40 cm dan tanahnya cukup subur maka diperlukan bibit sebanyak 50.000 – 62.500 setek/ha. Setek dapat langsung ditanam di kebun produksi, namun sebaiknya disemai terlebih dahulu dipersemaian atau dalam polybag. Lahan persemaian tanahnya diolah cukup dalam 30 cm dan diberi pupuk kandang sebanyak 0,5 kg/m².

Penyiapan Lahan Budidaya Kumis Kucing

Lahan untuk budidaya kumis kucing tanahnya diolah sedalam 30 – 40 cm, gulma dan pepohonan lain dibuang. Setelah diolah, tanah dibiarkan selama 15 hari aga gas-gas beracun dalam tanah menguap. Selanjutnya, tanah diratakan dan dibuat bedengan-bedengan selebar 100 – 120 cm, tinggi 20 – 30 cm, jarak antar bedengan 30 cm dan pajangnya disesuaikan keadaan lahan yang dilengkapi dengan parit kelilit.

Penyiapan lahan dapat pula dalam bentuk guludan – guludan dengan ukuran lebar bagian dasar 60 – 80 cm, tingg 30 cm, jarak antar guludan 30 cm dan panjangnya disesuaikan dengan keadaan lahan. Pada saat pembuatan bedengan atau guludan dianjurkan memberikan pupuk dasar berupa pupuk komos atau pupuk kandang yang telah matang sebanyak 15 – 20 ton/ha.

Penanaman

Waktu tanam yang terbaik adalah di awal musim hujan (Oktober – Desember). Namun, jika air tersedia di sepanjang tahun, waktu tanam bisa dilaksanakan setiap waktu. Sebelum tanam, buka lubang tanam berukuran 30 x 30 x 30 cm dengan jarak tanam 40 x 60 cm. Cara menanam, mula-mula pilih bibit yang baik dari pembibitan, kemudian tanamkan bibit secara tegak lurus sedalam 5 cm atau 1/3 bagian dari pangkal batang bibit tanaman kumis kucing. Setiap lubang tanam diisi 4 – 6 bibit tanaman. padatkan tanah disekitar bibit, kemudian sirami tanahnya sampai cukup basah.

Pemeliharaan Tanaman Kumis Kucing

Pemeliharaan tanaman dalam budidaya kumis kucing perlu dlakukan secara kontinu dan teliti. Kegiatan pokok pemeliharaan tanaman meliputi :

Penyulaman

Penyulaman dilakukan antara 1-15 hari setelah tanam untuk tetap menjaga pertanaman pada jarak tanam yang telah ditentukan (40 x 40 cm). Penyulaman dilakukan pada tanaman yang mati atau tumbuh tidak normal dengan bibit tanaman baru yang umurnya tidak berbeda jauh, sehingga pertumbuhan selanjutnya akan tetap sama dan seragam.

Pengairan

Pada awal budidaya kumis kucing, tanaman perlu diairi atau disiram 1-2 kali sehari. Setelah tanaman terlihat kokoh dan rimbun, penyiraman dikurangi. Frekuensi penyiraman selanjutnya tergantung cuaca. Hal yang perlu diperhatikan, tanah tidak boleh sampai kering. Pemberian air dapat dilakukan dengan cara disiram atau menggenangi air dalam saluran di antara bedengan atau guludan.

Penyiraman

Gulma atau rumput liar yang tumbuh di kebun tanaman kumis kucing perlu disiangi secara kontinu untuk mengurangi persaingan unsur hara. Penyiangan biasanya dilakukan agak sering saat tanaman masih muda, sehingga lahan diantara tanaman masih terbuka karena kanopi tanaman belum tumbuh besar. Pada tanaman kumis kucing yang dewasa, periode penyiangan sudah agak jarang karena kanopi pada masing-masing tanaman akan saling menutupi permukaan tanah, sehingga akan menekan pertumbuhan gulma dibawahnya.

Pemupukan

Pemmupukan dalam budidaya kumis kucing terdiri atas 2 jenis, yaitu secara organik dan kimia. Pemupukan secara organik dengan menggunakan pupuk kompos atau kotoran ternak. Selain sewaktu tanam sebagai pupuk dasar, pupuk organik juga diberikan setiap bulan sekali sebanyak  1 – 2 kg setiap tanaman. Pemupukan pada tanaman dewasa bisa lebih sering setiap 2 – 3 minggu sekali sebanyak 1,5 – 3 kg per tanaman, terutama setelah dilakukan pemanenan atau perompesan daun, sehingga pertumbuhan selanjutnya akan lebih baik. Pemupukan dengan pupuk kimia berupa Urea sebanyak 75 kg/ha diberikan setiap 3 kali panen atau 6 – 9 minggu sekali. Pupuk tersebut disebar dalam larikan dangkal antara baris tanaman, kemudian segera ditutup tanah.

Panen Budidaya Kumis Kucing

Tanaman kumis kucing yang berumur 1 bulan setelah tanam sudah layak dipanen perdana, ditandai dengan belum munculnya tangkai bunga dan tinggi tanaman mencapai sekitar 50 cm. Hal ini disebabkan produk utama yang dimanfaatkan dari tanaman kumis kucing adalah daunnya. Panen pertama jangan sampai terlambat karena akan mempengaruhi produksi berikutnya. Cara panen dilakukan dengan memetik pucuk berdaun 3 – 5 helai, kemudian merempel daun-daun tua dibawahnya sampai helai ke-10. Panen dilaksanakan dalam periode 2 – 3 minggu sekali, yaitu pada kondisi pertumbuhan daun secara optimal. Bila tumbuh bunga sebaiknya dirompes untuk dapat memaksimalkan pertumbuhan daun pada panen berikutnya. Budidaya kumis kucing yang tanamannya sehat dan terpelihara dengan baik dapat menghasilkan daun segar (basah) sebanyak 6 – 9 ton/ha yang setara 1 – 2 ton/ha daun kering.