Cara Budidaya Kunyit Secara Intensif

Inti teknologi budidaya tanaman kunyit secara intensif mengacu pada standar pertanian yang baik atau Good Agriculturan Practice (GAP) meliputi kegiatan utama yang terdiri atas penyiapan bibit dan lahan, cara menanam kunyit, pemeliharaan tanaman dan panen. Secara terinci spesifikasi teknik budidaya tanaman kunyit akan saya jelaskan dibawah ini.

Penyiapan Bibit Untuk Budidaya

Kunyit diperbanyak secara vegetatif dengan menggunakan rimang induk dan anak rimpang. Rimpang induk digunakan seperempat bagian atau satu rimpang induk dibelah menjadi empat bagian membujur, sedangkan anak rimpang dengan ukuran 15-20 gram/potong. Sebelum ditanam, rimpang bakal bibit ditumbuhkan terlebih dahulu sampai mata tunasnya tumbuh setinggi 0,5-1 cm, sehingga diperoleh bibit tanaman yang seragam.

Bibit kuyit yang baik berasal dari pemecahan rimpang, karena lebih mudah tumbuh. Syarat bibit yang baik untuk digunakan dalam budidaya kunyit adalah sebagai berikut :

  • Berasal dari tanaman yang tumbuh subur, segar, sehat, berdaun banyak dan hijau, kokoh serta terhindar dari serangan penyakit.
  • Berumur tua atau berasal dari rimpang yang telah berumur >7 bulan.
  • Bentuk, ukuran dan warna seragam serta memiliki kadar air yang cukup.
  • Bibit telah mengalami masa istirahat (dormansi) yang cukup.
  • Terhindar dari bahan asing, seperti biji tanaman lain, kulit dan kerikil.

Rimpang bahan bibit yang terpilih dapat segera dipotong agar diperoleh ukuran dan berat yang seragam sera dapat memperkirakan banyaknya mata tunas rimpang. Bekas potongan ditutup dengan abu dapur atau sekam atau merendam rimpang yang dipotong dengan larutan fungisida, misalnya Benlate, guna menghindari tumbuhnya jamur. Tiap potong rimpang memiliki 1-3 mata tunas, dengan berat antara 20-30 gram dan panjangnya 3-7 cm. Kebutuhan bibit kunyit per hektar berkisar antara 0,5-0,65 ton.

Penyemaian bibit dapat dlakukan di dalam bak pasir yang basah setelah diairi. Bibit ditanam dengan kedalaman sekitar 5 cm, kemudian ditutup pasir setebal 2 cm. Usahakan kondisi persemaian selalu lembap dengan menyiramkan air secara kontinu.

Setelah tunas tumbuh sepanjang 2-3 cm, maka bibit sudah dapat ditanam di lahan (kebun). Pemindahan bibit yang telah bertunas dilakukan secara hati-hati guna menghindari agar tunas yang telah tumbuh tidak rusak. Bila ada tunas atau akar yang saling terkait, maka akar tersebut dipisahkan dengan hati-hati, lalu bibit diletakkan dalam wadah tertentu untuk memudahkan pengangkutan ke lokasi lahan. Jika jarak antara tempat pembibitan dengan lahan jauh, maka bibit perlu dilindungi agar tetap lembap dan segar ketika tiba di lokasi. Selama pengangkutan, bibit rimpang yang telah bertunas jangan ditumpuk.

Penyiapan Lahan Budidaya Kunyit

Lokasi penaman kunyit dapat berupa lahan tegalan, perkebunan atau pekarangan. Penyiapan lahan untuk budidaya kunyit sebaiknya dilakukan minimal 30 hari sebelum tanam. Tahap-tahap penyiapan lahan sebagai berikut :

Pembukaan Lahan

Lahan yang akan ditanami dibersihkan dari gulma dan pepohonan lainnya secara manual atau menggunakan alat mekanik. Selanjutnya, tanah diolah dengan cara dicangkul sedalam 20-30 cm hingga gembur, sekaligus mengembalikan kesuburan tanah. Tanah yang baru diolah diistirahatkan selama 1-2 minggu agar gas-gas beracun yang ada dalam tanah menguap dan bibit penyakit yang ada mati karena terkena sinar matahari.

Pembentukan Bedengan

Tanah yang sudah diolah dapat segera dibuat petakan-petakan atau berbentuk bedengan-bedengan dengan ukuran lebar 1-3 m, tinggi 20-30 cm, jarak antarpetakan 30-50 cm dan panjang petakan disesuaikan dengan kondisi lapangan. Selanjutnya, tanah petakan atau bedengan tersebut diratakan. Tujuan dari pembuatan petakan atau bedengan adalah untuk memperbaiki drainase tanah, menggemburkan tanah dan memdahkan pemeliharaan tanaman.

Menanam Tanaman Kunyit

Anda dapat menanam kunyit di setiap waktu sepanjang tahun jika tersedia air secara memadai. Meskipun demikian, waktu tanam kunyit yang paling tepat adalah pada awal musim hujan, karena tanaman kunyit stadium muda membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya. Hal penting yang perlu diperhatikan dalam cara menanam kunyit adalah sebagai berikut :

Pola Tanam

Penanaman kunyit dapat dilakukan secara monokultur (hanya kunyit saja) dan tumpang sari dengan tanaman semusim, seperti kacang tanah atau cabai rawit. Selain itu, dapat pula dikembangkan pola tanam di bawah tegakkan hutan kemasyarakatan, yaitu ditanam di antara pohon jati atau pohon sengon. Penetapan pola tanam akan menentukan jarak tanam kunyit.

Pembuatan Lubang Tanam

Pada petakan atau bedengan yang telah disiapkan dapat diuat lubang tanam berukuran 30 x 30 x 30 cm dengan jarak antar lubang tanam bervariasi, antara 50 x 40, 50 x 50 atau 50 x 60 cm apabila sistem budidaya monokultur, termasuk dibawah tegakan hutan. Namun, bila ditanam secara tumpang sari dengan tanaman sisipan kacang tanah atau cabe rawit, maka jarak tanamnya diperpanjang menggunakan 75 x 50 cm.

Pemupukan Dasar dan Penanaman

Dalam mempertahankan kegemburan tanah sekaligus meningkatkan unsur hara dalam tanah, perlu dilakukan pemberian pupuk dasar berupa pupuk kandang dengan dosis 10-20 ton/hektar. Selain itu dapat diberikan pupuk dasar berupa pupuk anorganik (buatan), yaitu Sp-36 dengan dosis 300 kg/ha dan KCl dosis 200 kg/ha, baik pmupukan dasar pada pola monokultur maupun tumpang sari. Pupuk dasar tersebut disebar secara merata dalam lubang tanam. Bibit kunyit yang telah disiapkan sebelumnya, kemudian ditanam ke dalam lubang tanam berukuran 5-10 cm dengan arah mata tunas menghadap ke atas. Selanjutnya, bibit kunyit ditimbun dengan tanah setebal 3-5 cm. Seusai penanaman sebaiknya dilakukan penyiraman hingga tanah cukup lembap dan bibit kunyit cepat tumbuh.

Pemeliharaan Tanaman Kunyit

Pemeliharaan tanaman kunyit dilakukan secara kontinu dan teliti, yang meliputi kegiatan pokok berikut ini.

Pengairan

Pada awal budidaya kunyit membutuhkan ketersediaan air yang memadai, sehingga perlu pengairan (penyiraman) 1-3 hari sekali, terutama di musim kemarau. Pada saat tanaman kunyit telah dewasa, interval penyiraman dapat dikurangi sesuai dengan keadaan tanah dan cuaca. Kunyit termasuk tanaman yang tidak tahan air atau tanah yang menggenang. Oleh karena itu, drainase dan pengaturan pengairan perlu dilakukan secermat mungkin, agar tanaman kunyit terbebas dari genangan air yang dapat menyebabkan rimpangnya membusuk.

Penyulaman

Apabila ada rimpang kunyit tidak tumbuh atau pertumbuhannya buruk, maka dilakukan penanaman susulan (penyulaman) bibit rimpang lain yang masih segar dan sehat. Caranya, buat lubang tanam pada bekas lubang tanam terdahulu sedalam 3-5 cm, kemudian ditanami bibit rimpang kunyit yang baru. Selanjutnya, bibit rimpang kunyit tersebut ditimbun dengan tanah tipis. Penyulaman jangan terlambat agar pertumbuhan tanaman kunyit relatif seragam dan memudahkan pemeliharaannya.

Penyiangan

Penyiangan dilakukan untuk menghindari gulma bersaing dalam hal air, unsur hara dan sinar matahari dengan tanaman yang anda budidayakan. Kegiatan penyiangan dilakukan 3-5 kali bersamaan dengan pemupukan dan penggemburan tanah. Penyiangan pertama dilakukan pada saat tanaman berumur 1/2 bulan. Penyiangan berikutnya dilakukan 1-2 bulan sekali, bergantung pada pertumbuhan gulma. Cara menyiangi, mula-mula mencabut atau membersihkan rumput secara manual dengan tangan atau kored atau parang agar tidak merusak rimpang kunyit, kemudian rumput liar tersebut ditimbun dalam lubang untuk dijadikan kompos.

Pembumbunan

Pekerjaan pembumbunan di dalam budidaya kunyit diperulkan untuk menimbuk kembali daerah perakaran tanaman kunyit dengan tanah yang melorot terbawa air. Pembumbunan bermanfaat untuk memberikan kondisi media sekitar perakaran lebih baik, sehingga rimpang akan tumbuh subur dan bercabang banyak. Pembumbunan biasanya dilakukan bersamaan dengan kegiatan penyiangan. Pembumbunan dapat diulang secara kontinu tiap 3-4 bulan sekali. Cara membumbun, mula-mula tanah sejauh 10-15 cm dari pangkal batang tanaman kunyit digemburkan secara hati-hati, kemudian tanah tersebut ditimbunkan pada pangkal batang tanaman kunyit hingga membentuk guludan-guludan kecil.

Pemupukan

Hasil uji produksi budidaya kunyit dilakukan oleh Balittro menunjukkan bahwa, dengan penggunaan varietas unggul kunyit di lahan terbuka dan dipupuk kandang 10-20 ton/ha, pupuk urea 150 kg/ha, SP-36 100 kg/ha dan KCCl 150 kg/ha, menghasilkan rimpang kunyit segar 23,16 – 25,05 t/ha. Berdasarkan pendekatan dalam aplikasi pemupukan tersebut, maka jenis dan dosis pupuk yang dianjurkan berdasarkan Standar Prosedur Operasional (SPO) budidaya kunyit adalah pupuk kandang 10-20 ton/ha, pupuk anorganik (buatan) terdiri atas pupuk Urea 100 kg/ha, SP-36 200 kg/ha dan KCL 200 kg/ha untuk pola monokultur, serta Urea 200 kg/ha untuk pola tumpang sari. Pupuk kandang, SP-36 dan KCl diberikan pada saat tanam, sedangkan pupuk Urea diberikan menjadi 2 kali, yaitu pada umur 1 bulan setelah tanam sebanyak 1/3 dosis dan 3 bulan setelah tanam sebanyak 2/3 dosis. Pupuk diberikan dengan ditebarkan secara merata di sekitar tanaman kunyit atau dalam lubang tunggal sedalam 5-10 cm di sela-sela tanaman kunyit.

Panen Budidaya Kunyit

Panen tanaman kunyit dilakukan pada umur matang (masak) fisiologis. Di Indonesia kunyit pada umumnya dipanen setelah daun menguning dan gugur, pada umur 10-12 bulan atau kadang-kadang dibiarkan sampai 20-24 bulan setelah tanam apabila harga rendah atau pasar tidak tersedia. Saat panen biasanya kadar air rimpang kunyit bisa mencapai 90%, yang selanjutnya perlu dikeringkan hingga mencapai kadar air 9% agar dapat disimpan lama.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *