Panduan Budidaya Lengkuas Secara Lengkap dan Benar

Lengkuas merupakan tanaman yang banyak ditemukan di berbagai daerah di Indonesia. Kebutuhan akan rimpang lengkuas cukup tinggi, karena selain berfungsi sebagai bumbu masakan ia juga sering dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Oleh karena itu banyaknya permintaan di pasar, budidaya lengkuas memiliki prospek yang sangat baik.

Inti teknolgi budidaya tanaman lengkuas meliputi penyiapan bibit dan lahan, penanaman, pemeliharaan tanaman hingga panen. Selain itu, pengetahuan tentang syarat tumbuh tanaman lengkuas beserta kondisi optimalnya perlu anda ketahui juga sehingga anda bisa membuat usaha budidaya anda mendapatkan hasil yang sesuai harapan.

Syarat Tumbuh Tanaman Lengkuas

Tanaman lengkuas mempunyai daya adaptasi luas terhadap lingkungan tumbuh di daerah trops. Kondisi lingkungan yang penting untuk diperhatikan adalah faktor iklim dan tanah.

Faktor Iklim
Tanaman lengkuas tumbuh baik di daerah dataran rendah sampai dataran tinggi, yaitu ada ketinggian 1 – 1.200 m diatas permukaan laut. Kondisi lingkungan yang ideal untuknya diantaranya suhu 25-29°C, kelembapan (rH) 50-70% dan curah hujan antara 1.500-40.000 mm/tahun. Pertumbuhan tanaman lengkuas juga memerlukan intensitas penyinaran matahari yang tinggi.

Faktor Tanah
Budidaya tanaman lengkuas cocok dilakukan pada tanah yang mempunyai tekstur berlempung atau berliat, solum tanah sedang sampai dengan dalam, drainase baik serta unsur hara makro dan mikro sedang sampai tinggi. Jenis tanah sebagai media tumbuh tanaman lengkuas adalah jenis latosol, andosol dan alluvial.

Secara umum agar budidaya lengkuas mendapatkan hasil produksi yang optimal membutuhkan persyaratan tanah sebagai berikut :

  1. Subur, gembur dan mengandung cukup unsur hara.
  2. Tata udara (aerasi) dan tata air (drainase) tanah baik.
  3. Mengandung cukup air dan bebas dari gulma (rumput liar).
  4. Tingkat keasaman tanah (pH) 5,5-6,9.
  5. Kedalaman air tanah berkisar 50-100 cm dari permukaan tanah.

Penyiapan Bibit Untuk Budidaya Lengkuas

Tanaman lengkuas pada dasarnya dapat diperbanyak secara generatif dengan biji, namun teratas pada skala penelitian. Perbanyakan yang umum dilakukan secara vegetatif dengan potongan rimpang yang sudah tua dan bertunas atau rimpang anakan. Rimpang tersebut kemudian dipotong menjadi beberapa ruas yang masing-masing ruas memiliki 2-3 tunas. Rimpang bakal bibit dipilih rimpang tua yang beratnya 50 gram dan ukurannya seragam. Bahan bibit ini sebaiknya terlebih dahulu dikecambahkan di persemaian sebelum digunakan untuk budidaya.

Penyemaian bibit lengkuas dapat dilakukan pada peti kayu atau dengan bedengan. Penyemaian pada peti kayu, rimpang lengkuas yang baru dipanen, dijemur sementara (tidak sampai kering), kemudian disimpan sekitar 1-1,5 bulan. Selanjutnya, patahkan rimpang tersebut dengan tangan, setiap potongan memiliki 3-5 mata tunas dan dijemur ulang 1/2-1 hari. Potongan bakal bibit tersebut dikemas ke dalam karung beranyaman jarang, lalu dicelupkan dalam larutan fungisida dan zat pengatur tumbuh sekitar 10 menit kemudian dikeringkan.

Setelah itu, dapat disemai dalam peti kayu, caranya mula-mula pada bagian dasar peti kayu diletakkan bakal bibit selapis, kemudian diatasnya diberi abu gosok atau sekam padi, demikian seterusnya. Setelah 2-4 minggu di persemaian peti kayu, bibit tersebut sudah bisa dipindahkan atau ditanam di lahan budidaya.

Penyiapan Lahan Budidaya Lengkuas

Penyiapan lahan diawali dengan pembersihan gulma dan pepohonan lainnya, termasuk akar-akar bekas pertanaman sebelumnya. Selanjutnya, dilakukan pengolahan tanah dengan cara dibajak atau dicangkul dengan kedalaman sekitar 30 cm. Tujuan pengolahan tanah untuk mendapatkan kondisi tanah yang gembur atau remah dan membersihkan tanaman pengganggu. Setelah itu, tanah yang akan digunakan untuk budidaya lengkuas ini dibiarkan 2-4 minggu supaya gas-gas beracun menguap sekaligus membuat bibit penyakit dan hama mati terkena sinar matahari. Apabila pada pengolahan pertama dirasakan belum gembur, maka dapat dilakukan pengolahan tanah yang kedua sekitar 2-3 minggu sebelum tanah dan sekaligus diberikan pupuk kandang dengan dosis 1.500 – 2.500 kg/ha.

Pada daerah-daerah yang kondisi air tanahnya jelek sekaligus untuk mencegah terjadinya genangan air, sebaiknya tanah diolah menjadi bedengan-bedengan dengan ukuran tinggi 20-30 cm, lebar 80-100 cm, jarak antar bedengan 30-40 cm dan panjangnya disesuaikan dengan kondisi lahan. Pada tanah dengan pH rendah, sebagian besar unsur-unsur hara di dalamnya terutama fosfor (P) dan kalsium (Ca) dalam keadaan tidak tersedia atau sulit diserap. Kondisi tanah yang masam ini dapat menjadi media perkembangan beberapa cendawan penyebab penyakit Fusarium sp dan Pythium sp, sehingga perlu pengapuran. Pemberian kapur berfungsi untuk menambah unsur kalium yang sangat diperlukan tanaman lengkuas untuk menggerskan bagian tanaman yang berkayu, merangsang pembentukan bulu-bulu akar mempertebal dinding sel buah dan merangsang pembentukan biji.

Pola Tanam dan Penanaman

Penanaman lengkuas sebaiknya dilakukan pada awal musim hujan sekitar bulan September dan Oktober. Hal ini dikarenakan tanaman lengkuas saat masih muda membutuhkan air cukup banyak untuk pertumbuhannya. Pembudidayaan lengkuas sebaiknya dilakukan secara tumpang sari dengan tanaman lain. Beberapa keuntungan budidaya lengkuas dengan pola tanam tumpang sari adalah sebagai berikut :

  1. Mengurangi kerugian yang disebabkan oleh naik dan turunnya harga.
  2. Menekan biaya kerja, seperti tenaga kerja pemeliharaan tanaman.
  3. Meningkatkan produktivitas lahan.
  4. Mengurangi pertumbuhan gulma yang dapat mengganggu budidaya.

Sebelum tanam, di atas bedengan dibuat lubang-lubang kecil atau alur sedalam 3-7,5 cm untuk menanam bibit lengkuas. Cara menanamnya, mula-mula letakkan bibit rimpang lengkuas secara rebah ke dalam lubang tanam atau alur yang sudah disiapkan, kemudian ditutup dengan tanah.

Pemeliharaan Tanaman

Pemeliharaan tanaman lengkuas memerlukan perhatian khusus dan ketelitian. Kegiatan pokok pemeliharaan tanaman lengkuas meliputi :

a. Pengairan atau Penyiraman
Tanaman lengkuas tidak memerlukan air yang terlalu banyak pada pertumbuhannya, akan tetapi pada awal masa tanam diusahakan penanamannya pada awal musim hujan sekitar bulan September. Pengairan atau penyiraman hanya diperlukan apabila kondisi tanah kering dan musim kemarau.

b. Penyulaman
Sekitar 2-3 minggu setelah tanam perlu dilakukan pengecekan untuk mengamati rimpang atau bibit yang mati. Penyulaman dilakukan bila terdapat bibit yang mati. Agar pertumbuhan bibit sulaman tidak jauh tertinggal dengan tanaman lain, maka sebaiknya dipilih bibit rimpang yang baik, sudah bertunas dan pemeliharaan yang intensif.

c. Penyiangan
Kegiatan penyiangan pertama dilakukan ketika tanaman lengkuas berumur 2-4 minggu, kemudian dilanjutkan 3-6 minggu sekali, tergantung pada kondisi tanaman pengganggu yang tumbuh. Namun setelah berumur 6-7 bulan, sebaiknya tidak perlu dilakukan penyiangan lagi, sebab pada umur tersebut rimpangnya mulai besar.

d. Pembumbunan
Tanaman lengkuas memerlukan tanah yang peredaran udara dan airnya baik, sehingga tanah perlu digemburkan. Disamping itu, tujuan pembumbunan adalah untuk menimbun rimpang yang kadang-kadang muncul ke atas permukaan tanah. Apabila tanaman lengkuas masih muda, cukup tanah dicangkul tipis disekeliling rumpun dengan jarak sekitar 30 cm. Pada bulan berikutnya dapat diperdalam dan diperlebar setiap kali pembumbunan akan berbentuk guludan sekaligus terbentuk sistem pengairan yang berfungsi untuk menyalurkan kelebihan air. Pertama kali pembumbunan pada waktu tanaman berbentuk rumpun yang terdiri atas 3-4 batang semu. Pada umumnya pembumbunan dilakukan 2-3 kali selama budidaya tanaman lengkuas, tegantung kondisi tanah dan banyaknya hujan.

e. Pemupukan
Pada pertanian organik tidak menggunakan bahan kimia, termasuk pupuk buatan dan obat-oatan. Maka pemupukan budidaya lengkuas secara organik dilakukan menggunakan pupuk kompos atau pupuk kandang tanpa menggunakan pupuk buatan. Pemberian pupuk kompos dilakukan pada awal pertanaman atau saat pembuatan guludan sebagai pupuk dasar sebanyak 60 – 80 ton per hektar yang ditebar dan dicampur dengan tanah olah. Untuk menghemat pemakaian pupuk kompos dapat juga dilakukan dengan cara mengisi tiap-tiap lubang tanam di awal pertanaman sebanyak 0,5 – 1,0 kg per tanaman. Pupuk sisipan selanjutnya dilakukan pada umur 2-3 bulan, 4-6 bulan dan 8-10 bulan. Takaran pupuk sisipan yang diberikan sebanyak 2-3 kg per tanaman. Pemberian pupuk komos biasanya dilakukan setelah kegiatan penyiangan dan bersamaan dengna kegiatan pembubunan.

Bila menerapkan pemupukan konvensional atau non organik, selain pupuk dasar pada awal penanaman, perlu diberikan pupuk susulan kedua pada saat tanaman berumur 2-4 bulan. Pupuk dasar yang digunakan adalah pupuk organik 15-20 ton/ha. Pemupukan tahap kedua digunakan pupuk kandang dan pupuk buatan yang terdiri atas Urea 20 gram/rumpun, TSP atau SP-36 10 gram/rumpun dan ZK 10 gram/rumpun serta KCL 112 kg/ha pada tanaman yang berumur 4 bulan. Pemupukan dilakukan dengan cara ditebar secara merata di sekitar tanaman atau dalam bentuk alur atau dimasukkan ke dalam tugal di sela-sela tanaman lengkuas.

f. Pengendalian Hama dan Penyakit
Bila ditemukan serangan hama dan penyakit cukup berat dapat dilakukan penyemprotan pestisida. Penyemprotan ini sebaiknya dilakukan mulai saat penyimpanan bibit sebelum disemai dan pada saat pemeliharaan. Penyemprotan pestisida pada fase pemeliharaan biasanya dicampur dengan pupuk organik cair atau vitamin-vitamin yang mendorong pertumbuhan tanaman.

Panen Budidaya Lengkuas

Rimpang lengkuas sudah daat dipanen bila ditandai dengna berakhirnya pertumbuhan vegetatis, seperti daun yang menunjukkan gejala kelayuan secara fisiologis. Pada keadaan ini rimpang elah berukuran optimal dan umur di lahan sekitar 10-12 bulan. Pemanenan dilakukan dengan cara membongkar rimpang dengan garpu atau cangkul secara hati-hati agar tidak terluka atau rusak. Tanah yang menempel pada rimpang dibersihkan degan cara dipukul pelan-pelan sehingga tanah terlepas.

Salah satu pelaku budidaya lengkuas bernama Siti Raudah di Hatungun, Kalimantan selatan, mempunyai pengalaman bahwa setiap rumpun lengkuas bisa menghasilkan 12-15 kg rimpang. Oleh karena itu, sekali panen lengkuas dapat dihasilkan sekitar 80 ton/hektar.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *