Budidaya Teripang di Hampang dan Tambak

TeripangTeknologi budidaya teripang cukup sederhana, terutama sistem kurungan atau hampang di pantai, serta tidak membutuhkan modal yang besar sehingga dapat dilakukan oleh nelayan dan petani ikan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam budidaya teripang, antara lain :

Lokasi budidaya

Pada dasarnya, budidaya teripang adalah kegiatan membatasi ruang gerak teripang agar tidak terbawa arus dan tidak meloloskan diri. Tempat pemeliharaan teripang dapat di perairan pantai dengan menggunakan hampang. Ada beberapa faktor yang perlu diperhatikan dalam membangun hampang atau kurungan dan tambak, antara lain :

  1. Kedalaman air di lokasi budidaya yang ideal berkisar antara 0,5 – 1 meter pada surut terendah, sedangkan pada pasang tertinggi tidak lebih dari 2 meter.
  2. Dasar perairan sebaiknya landai yang terdiri dari pasir dan pecahan pecahan karang, sedikit berlumpur serta banyak ditumbuhi lamun atau yar (sea grass) dan rumput laut. Selain berfungsi sebagai pelindung, karang, lamun/yar dan rumput laut juga berfungsi sebagai penangkap makanan untuk teripang
  3. Lokasi budidaya harus daerah teluk, laguna atau perairan terbuka yang terlindung oleh gugusan pulau atau karang penghalang. Lokasi yang demikian terlindung dari pengaruh arus, angin dan gelombang besar.
  4. Kualitas air di lokasi harus memenuhi syarat pertumbuhan teripang, yaitu salinitas 26 – 33 promil, suhu 23-32 C, pH air 6,5 – 8,5, kecerahan 50-150 cm, kandungan amonia kurang dari 0,42 ppm, kecepatan arus 0,3 – 0,5 m/detik, oksigen terlarut 4-8 ppm dan perairan tidak tercemar oleh limbah.
  5. Kisaran pasang surut air laut yang cocok untuk tambak adalah 2-3 meter. Apabila suatu daerah memiliki kisaran pasang surut lebih dari 4 meter maka tambak yang dibangun harus memiliki pematang yang tinggi. Kisaran pasang surut yang kurang dari 1,5 meter, suplai airnya kurang sehingga dibutuhkan pompa air untuk mengisi tambak.
  6. Teripang membutuhkan air yang bersalinitas tinggi. Oleh karena itu, tambak untuk budidaya teripang harus diisi dengan air laut. Tambak yang dibangun harus jauh dari air sungai untuk menghindari pengaruh air tawar dari sungai. Tambak untuk teripang juga tidak cocok dibangun pada areal hutang mangrove karena areal ini memiliki salinitas rendah.
  7. Topografi tanah yang cocok untuk tambak adalah tidak bergelombang, tidak curam dan dipilih pada elevasi tertentu sehingga sistem pengelolaan air cukup memanfaatkan pasang surut. Tanah untuk tambak juga harus kedap air (tidak porous) sehingga dapat menahan air dan tidak mudah longsor. Tanah yang baik berupa lempung berpasir, lempung liat atau lempung berlumpur. Tanah pada dasar tambak berupa pecahan karang, pasir, atau pasir berlumpur. Pecahan karang dapat diambil di daerah pasang surut dan dimasukkan ke dalam tambak. Oleh karena itu, lokasi yang tanah dasarnya berlumpur tebal/liat berlumpur, tidak cocok untuk pembuatan tambak teripang karena biasanya mengandung pyrit dan salinitasnya rendah.
  8. Lokasi yang dipilih harus dekat dengan sumber benih alami atau dekat dengan panti benih teripang. Terdapatnya benih alami di suatu lokasi merupakan petunjuk bahwa lokasi itu cocok sebagai tempat budidaya teripang. Lokasi yang jauh dari sumber benih perlu dipertimbangkan sarana dan prasaran transportasi untuk pengadaan benih.

Wadah Budidaya Teripang

Teripang dibudidayakan di hampag atau kurungan (preculture) dan tambak. Metode budidaya hampang adalah membatasi areal di laut untuk memelihara teripang. Desain konstruksi kurungan pagar untuk teripang cukup mudah. Bahan yang digunakan dapat berupa bambu atau jaring. Bentuk kurungan dapat berupa empat persegi panjang, segi empat atau lingkaran. Ukuran kurungan antara 400 – 1000 meter2. Kurungan dapat dibuat berbatasan denan pantai atau agak jauh dari pantau. Kurungan yang dibuat berbatasan dengan pantai dapat menghemat bahan, tetapi kurungan yang demikian mudah mengalami gangguan dari hewan darat. Oleh karena itu kurungan dibuat agak jauh dari pantai.

Benih Teripang

Dalam usaha budidaya teripang, ketersediaan benih yang cukup berkualitas dan secara terus menerus (kontinu) adalah faktor yang mutlak. Benih dapat diperoleh di alam atau dari hasil pembenihan di hatchri (balai pembenihan). Sampai saat ini, budidaya teripang masih mengandalkan hasil penangkapan alam. Karena teripang hidup menggeletak di dasar laut dan bergerak sangat lamban (hanya mengandalkan bantuan kaki tabung yang terangkum dalam sistem kaki ambulakral) sehingga penangkapannya sangat mudah.

Saat ini, teripang telah berhasil di benihkan secara terkontrol oleh balai besar penggembangan budi daya laut (BBPBL) lampung dan balai besar riset pengembangan budidaya laut (BBRPBL) gondol, bali. Ini berarti, kegiatan pembesaran teripang di masa yang akan datang tidak bergantung lagi pada benih alam. Benih yang baik tubuhnya bersih, tidak luka, respon terhadap rangsangan dan ukurannya seragam. Benih yang berasal dari hasil penangkapan di alam tentu sulit mendapatkan yang ukurannya seragam.

Baca Juga : Jenis Teripang Laut di Indonesia dan Morfologinya

Pemeliharaan teripang di hampang

Kurungan yang telah selesai dibuat, siap ditebari benih teripang, kepadatan benih yang ditebarkan dalam kurungan disesuaikan dengan ukuran benih. Bila benih masih berukuran 25 – 40 gram/ekor atau panjang 4-7 cm/ekor, untuk setiap m2 kandang diperlukan penebaran 15-20 ekor benih. Dengan demikian kalau kurungan pembesaran 400 m2, dibutuhkan sebanyak 6000-8000 ekor. Sementara itu, bila benih berukuran 40-50 gram/ekor, kepadatan penebarannya dapat diturunkan menjadi 10-15 ekor/m2. Untuk benih berukuran 60-100 gram/ekor, kepadatan benih yang ditebarkan cukup 8-10 ekor/m2.

Penebaran benih dilakukan pada saat cuaca teduh (pagi atau sore hari) agar benih tidak mengalami stres. Sebelum ditebar, perlu dilakukan adaptasi atau aklimatisasi suhu dan salinitas. Caranya, wadah penampungan benih diletakkan ke dalam kurungan, kemudian air dari laut di dalam kurungan dimasukkan sedikit demi sedikit ke dalam wadah penampungan benih. Beberapa saat kemudian, benih dilepas ke dalam kurungan.

Selain memanfaatkan pakan di dalam kurungan dan yang terbawa oleh arus air, teripang budidaya juga dapat diberi pakan tambahan agar pertumbuhan teripang cepat terpacu. Pakan yang biasa digunakan berupa camppuran pupuk organik atau kotoran hewan dan dedak halus dengan perbandingan 1:1. Pakan tersebut diberikan setiap 2 minggu sekali dengan dosis 0,2 – 0,5 kg/m2. Cara pemberiannya, pakan di masukkan ke dalam karung goni yang berlubang lubang dan kemudian karung tersebut dimasukkan ke dalam kurungan. Dengan demikian, pakan akan keluar sedikit demi sedikit dan tidak hanyut oleh arus dan gelombang air. Dalam setiap karung goni, biasanya diisi pakan tambahan sebanyak 10-15 kg. Jumlah tersebut dapat digunakan untuk luasan budidaya antara 30-50 m2.

Teripang dapat dipanen bila panjangnya sudah mencapai 15-20 cm atau bobotnya 300-500 gram/ekor. Untuk mencapai ukuran tersebut, dibutuhkan waktu pemeliharaan sekitar 5-6 bulan bila benih yang ditebar berukuran 25-40 gram/ekor. Dari 1 unit kurungan ukuran 400 m2, dapat dipanen teripang sekitar 1.500 kg dengan tingkat kelulusan hidup mencapai 80% lebih.

Baca Juga : Cara Budidaya Bawang Merah Organik

Pemeliharaan Teripang di Tambak

Pemeliharaan teripang di tambak memberikan pertumbuhan lebih baik daripada di hampang. Hal ini karena situasi dan pemeliharaanya berbeda. Pemeliharaan teripang di perairan pantai lebih sering terkena gelombang dan tidak diberi pakan, sedangkan pemeliharaan di tambak keadaanya lebih aman dan dibantu dengan pemberian pupuk organik. Umur panen pemeliharaan teripang sistem kurungan di pantai menjadi lebih panjang (6 bulan) dan berat teripang yang dicapai antara 300 – 500 gram per ekor, sedangkan jika dipelihara di tambah hanya membutuhkan waktu 4 bulan saja untuk mencapai berat yang sama.

Sebelum ditebari benih teripang, tambak dikeringkan selama 3 – 7 hari, kemudian dilakukan pengapuran. Dosis kapur yang digunakan disesuaikan dengan pH dan tekstur tanah. Kapur yang digunakan adalah CaCO3, CaO dan Ca(OH)2.

Selanjutnya tambak diari hingga mencapai kedalaman 75-100 cm dan masukan rumput laut ke dalamnya. Jenis rumput laut yang digunakan adalah spesies yang dapat dipelihara di tambak, seperti Gracilaria verucosa, G. gigas, G. edulis, dan G. confervoides. Jumlah rumput laut yang ditebar ke dalam tambak sekitar 10-20 gram/m2. Rumput laut itu nantinya akan digunakan sebagai tempat berlindung bagi teripang budidaya. Setelah itu, tambak siap ditebari benih teripang. Kepadatan penebaran benih teripang di dalam tambak sama dengan kepadatan penebaran benih di kurungan.

Selama pemeliharaan, teripang diberi pakan berupa campuran pupuk organik dan dedak. Jumlah pakan yang diberikan adalah 2-8% dari bobot tubuh teripang per hari. Pakan tersebut diberikan dengan cara ditebarkan langsung ke tambak. Pemberian pakan dapat dilakukan 1-2 kali sehari, tergantung dari keaktifan teripang memakan makanan. Oleh karena itu, aktivitas makan teripang harus selalu diamati agar dosis pakan yang diberikan lebih tepat.

Selama pemeliharaan, kedalaman air di dalam tambak harus selalu terjaga. Selain itu, usahakan ada pergantian air di dalam tambak agar stabilitas suhu dan salinitas tetap terjaga. Penggantian air dapat dilakukan setiap hari, pagi atau sore hari. Air yang diganti sebanyak setengah atau sepertiga dari volume.

 

Related Posts

Add Comment