Cacing Pipih Berkembang Biak Dengan Cara Ini !

Cacing pipih (Platyhelminthes) berkembang biak dengan cara generatif dan vegetatif, tergantung dari Kelasnya. Perlu anda ketahui, bahwa kelompok cacing pipih terdiri dari 3 kelas yang didalamnya terdapat 25.000 spesies. Masing-masing kelas mempunyai cara berkembang biak yang sedikit berbeda.

Kelas Turbellaria

Cacing pipih kelas Turbellaria memiliki organ reproduksi jantan dan betina pada setiap individunya. Mereka berkembang biak dengan cara melakukan pertukaran sperma. Telur yang sudah dibuahi menetas di luar tubuh dan langsung menghasilkan anakan cacing pipih yang tidak melalui stadium larva. Pada beberapa spesies yang hidup di laut, dijumpai adanya stadiumlarva yang biasa disebut dengan larva muller.

Alat kelamin jantan yang dimiliki cacing pipih kelas Turbellaria ini terdiri atas testes, vesikulus prostata, vas deferens, vesikulus seminalis, duktus ejakulatorius dan penis. Sedangkan alat kelamin betinanya terdiri atas ovarium, oviduk, kelenjar semen dan vagina. Ketika sel telur berada di oviduk, ia dibungkus oleh kuning telur dari kelenjar vitellaria. Spermatozoa disimpan di vesikulus seminalis menjelas kopulasi. Bursa kopulatori pada cacing betina adalah tempat menyimpan spermatozoa yang diperoleh dari cacing partnernya. Beberapa spesies memiliki reseptakulum seminalis sebagai pengganti bursa. Setelah pembuahan, sekresi kelenjar semen membungkus zigot dengan cairan perekat, yang membuat zigot dapat menempel pada substrat seperti mikroalga dan vegetasi lain.

Cacing turbellaria memiliki kemampuan regenerasi yang besar. Beberapa spesies kelompok cacing pipih ini juga berkembang biak dengan cara pembelahan secara aseksual.Kemampuan regenrasi ini menjadikan cacing tersebut digunakan sebagai model untuk mempelajari proses-proses pengendalian diferensiasi seluler oleh para ahli biologi perkembangan.

Kelas Cestoda (Cacing Pita)

Cacing pipih yang masuk ke dalam Kelas Cestoda sering disebut sebagai cacing pita, mereka merupakan hewan yang bersifat parasit. Setiap individu cacing pita merupakan hermafrodit simultan, hal ini tercermin pada setiap proglotidnya. Sistem reproduksi jantan maupun betina berada di proglotid ini. Setiap proglotid menhasilkan sekitar 50.000 sel telur dan sekitar 1.000 testes.

Proglotid yang lebih dahulu masak yang terletak paling ujung posterior tubuh cacing. Telur yang berasal dari proglotid paling ujung tadi tersebar di rongga usus inang dan keluar dari tubuh inangnya bersama-sama dengan feses. Diluar tubuh inang, telur termakan oleh inang perantara. Inang perantara ini bisa lebih dari satu spesies tergantung dari spesies cacingnya. Inang perantara biasanya adalah hewan-hewan vertebrata dan avertebrata.

Kelas Trematoda

Cacing pipih yang termasuk kedalam Kelas Trematoda merupakan hermafrodit. Sehingga, cacing pipih ini berkembang biak dengan cara membuahi sel telurnya sendiri. Mirasidium yang berasal dari penetasan telur, keluar dari perairan bersama feses inang dan berenang memasuki tubuh siput. Di tubuh siput mirasidium akan berubah menjadi sporosis, yang kemudian akan memproduksi redia. Kemudian, redia ini akan menghasilkan serkaria yang akan mencari ikan sebagai inangnya. Jika ikan yang terinfeksi termakan oleh manusia maka ia akan bermukim di saluran empedu dan berkembang biak disana.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *