Cara Budidaya Rumput Laut di Tambak

Rumput LautBudidaya rumput laut dapat dilakukan di tambak dan di laut. Lahan di daerah pasang surut untuk budidaya rumput laut diperkisakan mencapai 1,1 juta ha. Dengan produktivitas rata rata sebesar 16 ton rumput laut kering/ha/tahun, dapat diproduksi 17,7 juta ton rumput laut kering/tahun., dapat diproduksi 17,7 juta ton rumput laut kering/tahun.

Untuk budidaya di tambak, diperkirakan luas lahan di indonesia mencapai 1,2 juta ha. Sejauh ini, baru dimanfaatkan untuk tambak udang, bandeng, kakap putih, kerapu dan nila, sedangkan rumput laut baru mencapai kurang lebih 400.000 ha. Dengan demikian masih tersedia lahan tambak yang cukup luas, baik untuk budidaya udang, ikan, rumput laut maupun komoditas lainnya.

Keunggulan Budidaya Rumput Laut di Tambak

Budidaya rumput laut di tambak memiliki beberapa keunggulan, antara lain :

1. Secara morfologis, talus rumput laut lebih panjang dan percabangannya lebih banyak pada metode tebar dasar yang bermuara kepada pertumbuhan yang lebih cepat. Hal ini karena metode tebar dasar mempunyai kesempatan untuk mendapat nutrien dari air dan tanah dasar tambak.

2. Budidaya rumput laut di tambak dapat dilakukan secara monokultur dan polikultur. Menurut utojo, et al. (1998) penanaman rumput laut Gracilaria verucosa dengan metode tebar di dasar tambak merupakan metode yang terbaik pengaruhnya terhadap produksi bandeng dan udang windu.

3. Masa pemeliharaan cukup pendek, yaitu 6-8 minggu dengan produksi 1.500 – 2.000 kg/ha rumput laut kering.

4. Budidaya rumput laut di tambak lebih aman dari gangguan pemangsa, seperti ikan beronang, penyu, bulu babi dan lain lain. Demikian pula gangguan alam, seperti arus, angin dan gelombang.

Lokasi Budidaya

Agar pertumbuhan rumput laut optimal maka lokasi yang dipilih harus sesuai dengan biologi rumput laut, yaitu

  1. Agar rumput laut cukup mendapatkan pasokan oksigen, lokasi yang dipilih cukup terjadi pergerakan air. Gerakan air selain akan menghasilkan oksigen juga membawa pasokan unsur hara bagi tanaman.
  2. Lokasi sebaiknya masih digenangi air 30-60 cm pada waktu surut. Genangan air ini menguntungkan karena tanaman akan tumbuh lebih cepat, penyerapan makanan oleh tanaman terus berlangsung dan menghindari tanaaman rumput laut dari sinar matahari.
  3. Kualitas air yang cocok untuk rumput laut Eucheuma adalah salinitas 29 – 34 ppt, suhu 20-30 C, oksigen minimal 4 pp, dam pH 7,2 – 8.7
  4. Kualitas air untuk budidaya Gracilaria adalah salinitas 15 – 34 ppm, suhu 20-30 C, oksigen minimal 4 ppm, pH air 6-99 dan optimum antara 7,3-8,7, kadar amonia maksimal 0,1 ppm dan total bakteri 3.000 sel/m3
  5. Untuk budidaya Gracilaria di tambak, dapat dilakukan pada tambak baru atau tambak bekas budidaya ikan dan udang. Dasar tambak berupa lumpur berpasir.
  6. Kisaran pasang surut air laut untuk pembuata (pembangunan) tambak baru adalah 1,7 – 2,5 meter.
  7. Sebaiknya dipilih lokasi yang memppunyai elevaasi tertentu agar memudahkan pengelolaan air sehingga tambak cukup mendapatkan air pada saat terjadi pasang harian dan dapat dikeringkan pada saat surut harian.

Benih Rumput Laut

Benih rumput laut dapat berasal dari stok alam atau dari hasil pembudidayaan. keunggulan penggunaan benih yang langsung diambil dari alam adalah mudah dan murah pengadaanya, serta cocok dengan persyaratan pertumbuhan secara alami. Kekurangannya adalah benih sering tercampur dengan jenis rumput laut lain. Oleh karena itu, dibutuhkan pengetahuan dan ketrampilan untuk dapat memilih benih yang benar benar menjadi tujuan budidaya. Benih yang berasal dari budidaya lebih murni karena hanya terdiri dari satu jenis rumput laut. Tetapi bermasalah dalam hal mendatangkannya.

Cara Budidaya Rumput Laut

Budidaya rumput laut dapat dilakukan pada tambak baru atau tambak lama. Termasuk tambak bekasĀ  budidaya udang intensif yang kini banyak terlantar (tambak parkir), setelah gagal dalam budidaya udang windu. Sebelum penebaran benih rumput laut perlu dilakukan persiapan memadai.

Pada tambak lama atau tambak baru, perlu dilakukan pengolahan tanah untuk memastikan bawha tanah tidak lagi menyimpan organisme penyakit. Pengolahan tanah dimulai dengan pencangkulan dan pembalikan tanah dasar tambak sedalam 15- 20 cm, perataan kembali dan pengeringan. Pengeringan dilakukan selama 4-7 hari. berdasarkan pengamatan dan pengujian, dasar tambak sebaiknya dikeringkan sampai retak retak dan tidak melesat lebih dari 1 cm bila diinjak.

a. Monokultur

Tujuh hari setelah pengapuran dan pemupukan, tambak kemudian dialiri air setinggi 60 -70 cm dan dibiarkan selama 3-4 hari. Benih rumput laut ditebarkan secara merata di dalam tambak dengan padat penebaran 80 – 100 gram/m2 atau 800-1000 kg/ha. Bila dasar tambak cukup keras, benih dapat ditancapkan seperti penanaman padi. Benih rumput laut dijejer rapi. Penebaran bibit rumput laut harus dilakukan pada pagi atau sore hari ketika cuaca teduh.

Pekerjaan rutin yang dilakukan setelah penebaran adalah pengontrolan, pergantian air dan pemupukan susulan. Pengontrolan dilakukan untuk meratakan tanaman dan menyingkirkan organisme pengganggu, seperti rumput lumut dan siput. Angin dapat menyebabkan tanaman mengumpul di suatu tempat di dalam tambak. Tanaman yang mengumpuk segera diratakan. Lumut dan siput juga segera disingkirkan. Lumut dapat menghalangi sinar matahari yang masuk ke dalam tambak sehingga menghambat pertumbuhan rumput laut. Petani rumput laut di sulawesi setalan menanggulangi lumut dengan cara menebar ikan bandeng (Chanos chanos) ukuran kecil sebanyak 1.500 – 2.000 ekor/ha. Setelah lumut habis dimakan, bandeng segera dijaring agar tidak memangsa rumput laut.

Pergantian air dilakukan setiap 15 hari sekali. Pemupukan juga dilakukan setiap 15 hari sekali setelah pergantian air. Pukuk yang digunakan adalah campuran urea, TSP, dan ZA dengan perbandingan 1 : 1 : 1 sebanyak 20 kg/ha atau perbandingan 2:1:1 sebanyak 50 – 100 kg/ha.

Pemeliharaan rumput laut di tambak dilakukan 2-2,5 bulan. Laju pertumbuhan harian rumput laut yang dibudidayakan di tambak cukup tinggi antara 3-5,76 %/hari.

b. Polikultur

Rumput laut dapat dibudidayakan secara polikultur dengan organisme lain, seperti udang windu, udang pputih, udang vannamei, ikan bandeng, kerapu, kakap dan nila. Penelitian utojo, et al. (1993) terhadap polikultur rumput laut, bandeng dan udang windu, mengemukakan bahwa selain pertumbuhan rumput laut lebih cepat, produksi bandeng dan udang windu relatif lebih tinggi karena rumput laut yang ditebarkan di dasar tambak dapat berfungsi sebagai pelindung dan sekaligus tempat menempelnya organisme epifit makanan bandeng dan udang.

Bandeng yang di polikultur dengan rumput laut tidak memangsa rumput laut jika diberikan pakan buatan. Yang perlu diperhatikan dalam polikultur adalah jenis organisme yang dipolikultur dengan rumput laut dan padat penebaran. Sebaiknya rumput laut yang dipolikultur dengan ikan ikan yang relatif tahan pada kualitas air buruk, misalnya bandeng, kakap dan kerapu. Ikan ikan herbivora seperti beronang tidak cocok dipolikultur dengan rumput laut karena akan memangsa rumput laut tersebut.

Panen

Budidaya rumput laut di keramba dapat di panen setelah rumput laut mencapai ukuran berat sekitar 600 gram. Untuk mencapai ukuran tersebut, dibutukan waktu pemeliharaan selama 1,5 – 2 bulan. Pemanenan rumput dengan cara diangkat dengan menggunakan tangan dan dimasukkan ke dalam perahu yang telah disiapkan. Penambak sering menyisihkan rumput laut untuk dipelihara lebih lanjut.

Related Posts

Add Comment