Cara Budidaya Tanaman Sikas Untuk Pemula

Budidaya tanaman sikas tidaklah sulit karena tanaman ini membuthkan perawatan khusus bahkan tanpa dirawat pun sebenarnya sikas masih bisa hidup dengan baik. Walau begitu untuk mempercepat pertumbuhan dan menghasilkan sikas berkualitas kita tetap perlu merawatnya supaya hasil budidaya bisa menguntungkan. Cara budidaya tanaman sikas perlu memperhatikan beberapa hal penting, yaitu :

Media tanam

Semua jenis sikas menyukai media yang porus (tidak mengikat air), karena tanaman ini tidak menyukai kondisi yang lembap. Jika ditanam dalam pot, tempatkan pada pot yang agak dalam agar akar utama (taproot) bisa tumbuh maksimal, terutama untuk tanaman yang baru tumbuh. Akar ini akan membesar seperti umbi untuk dipakai sebagai cadangan makanan. Agar air simpanan tidak mengenangi media tanam, buat lubang pada dasar pot dan alasi permukaan pot dengan pecahan genteng atau serutan kayu hingga setengah bagian pot. Setelah itu, baru diisi dengan media tanam. Jenis media tanam yang digunakan berupa campuran arang sekam, pasir malang dan pupuk kandang dengan perbandingan 1 : 1 : 1. Selain di tanam di dalam pot, tak jarang pecinta tanaman sikas yang menananmnya di tanah sebagai elemen untuk mempercantik taman.

Pot

Pot yang dibutuhkan oleh tanaman sikas tergantung pada besar dan umur sikas. Tanaman sikas yang berumur sekitar satu hingga dua tahun membutuhkan pot berdiameter 15-20 cm. Sementara itu sikas dengan umur lebih dari empat tahun membutuhkan pot yang lebih besar, yakni yang berdiameter 30-40 cm. Penampilan sikas juga didukung oleh bahan dan bentuk potnya. Sikas kurang cocok ditempatkan di pot plastik karena tampak kaku. Tanaman purba ini lebih cocok ditanam di pot semen atau pot dari tanah liat.

Pemupukan

Sering kali sikas dianggap bisa tumbuh baik di tanah yang miskin hara, meskipun ini benar tetapi sikas akan tumbuh jauh lebih maksimal dengan pemberian pupuk yang teratur. Pemberian pupuk dapat dilakukan sebulan sekali menggunakan pupuk NPK dengan kadar nitrogen (N) yang cukup tinggi.

Penyiraman

Sikas termasuk tanaman yang tidak menyukai air berlebihan. Karena itu penyiraman tidak boleh dilakukan terlalu sering. Penambahan air hanya dilakukan setelah media benar benar kering. Bisa dicek dengan memasukkan jari tangan ke dalam media tanam. Jika jari masih basah, penyiraman tidak perlu dilakukan. Penyiraman terlampau banyak justru memancing datangnya penyakit.

Repotting

Repotting dilakukan jika akar yang terbentuk sudah tidak muat lagi dalam pot yang lama. Akar tersebut akan membuat pot rusak dan membuat media tanamnya tidak porous lagi sehingga air siraman tergenang dalam pot. Ciri ciri tanaman sikas yang perlu di pindahkan ke pot baru antara lain daunnya sudah tidak tegak lagi dan tanaman sudah terlihat layu. Pemindahan ke dalam pot yang baru cukup mudah. Pertama, siapkan pot baru yang sudah terisi media yang baru. Lalu keluarkan sikas dari pot yang lama dengan hati hati agar akarnya tidak ada yang terluka. Setelah itu, pindahkan ke dalam pot baru yang lebih besar.

Pengendalian Hama dalam Budidaya Sikas

  1. Kutu Putih
    Hama yang menjadi musuh utama dalam budidaya sikas ini sangat lembut. Selain suka menempel kuat di sela sela daun, juga menyerbu batang. Ciri khasnya, cepat berkembang biak dan mampu hidup bertahun tahun di dalam batang sikas. Jika terbawa angin bisa menular ke sikas lain. Bila tingkat serangan baru memasuki tahap awal, pengendalian bisa memakai insektisida yang dicampur dengan air tembakau ranjangan. Lakukan dua kali seminggu, sampai telur dan kepompong ludes.
    Namun jika serangannya sudah mengganas, satu satunya jalan adalah dengan cara radikal, yakni dengan memotong semua daun sikas sampai ke pangkal batang, lalu bakar potongan daun tersebut. Sikat sela sela tangkai daun dan pangkal batang sampai bebas dari hama kutu putih, baru kemudian disemprot dengan insektisida. Penyemprotan harus dilakukan dengan berhati hati, jangan sampai mengenai titik tumbuh sikas. Pasalnya bila hal itu terjadi malah memperlambat pertumbuhan, bahkan tidak menutup kemungkinan bisa fatal akibatnya. Penyemprotan pada minggu pertama dilakukan setiap hari, lalu minggu minggu berikutnya cukup tiga kali seminggu.
    Sepintas, mungkin anda tidak tega melakukan tindakan radikal ini. Bahkan, setelah dipangkas, sepertinya sikas tidak menampakkan tanda tanda kehidupan. Padahal, sebetulnya tidak apa apa. Kendati tampak gundul, bukan berarti sikas mati. Berilah pupuk NPK di sekitar tanaman sikas. Niscaya dalam 1-2 bulan tunas tunas baru akan bermunculan.
  2. Kutu Cokelat
    Hama ini suka menempel sangat erat pada permukaan atas daun, celakanya kutu cokelat ini tak mempan dengan insektisida apapun. Itulah sebabnya, digunakan alternatif yang tepat guna mengatasinya, yakni dengan larutan air sabun cuci.
    Ambil kain, lalu celupkan ke dalam larutan air sebun tadi. Setelah itu, jepit daun siaks dan tarik pelan pelan. Yang penting harus teliti, rajin, sabad dan di lap satu satu.
  3. Ulat serit
    Sejenis ulat kecil dan lembut yang merupakan anakan kupu kupu kecil berwarna putih. Kupu kupu itu biasanya hinggap pada pucuk daun sikas yang masih kuncup. Oleh karena itu, sasaran serangan ulat serit adalah pada pucuk daun. Akibatnya, daun akan cacat terpotong potong.
    Pengendalian hama sikas ini cukup mudah . Tindakan preventif yang dapat dilakukan adalah mengusir kupu kupu putih yang hendak hinggap di pucuk daun sikas. Jika telat mengusir tamu tak diundang itu, ia akan bertelur, kemudian menetas menjadi ulat serit, semprot dengan insektisida seminggu sekali. Dosisnya sesuai label pada kemasan.

Perbanyakan Sikas

Tehnik Vegetatif

Tehnik perbanyakan vegetatif yang dlakukan adalah memisahkan anakan sikas dengan batang utamanya. Sebelum dilakukan pemisahan, sebaiknya kenali dulu kondisi induk dan anakan yang akan dipisahkan. Induk sikas sekurang kurangnya telah berumur empat tahun dan dalam kondisi sehat, tinggi minimum 30 cm. Pada umur tiga tahun biasanya tanaman sikas mengeluarkan tunas anakan dari batang atau dari pangkal akarnya. Kondisi anakan yang hendak dipisahkan sebaiknya sudah berumur satu tahun dan berdiameter 6-7 cm dengan jumlah daun minimum tiga pelepah.

Pemisahan anakan sikas dilakukan dengan cara membongkar atau menggali tanah di sekitarnya hingga seluruh bagian anakan terbuka. Kemudian ambil pisau tajam yang sudah disterilkan dengan alkohol 70%. Lalu potong pangkal anakan yang menempel pada induk. Pindah dan tanam anakan ke pot persemaian yang telah diisi media tanam. kedalaman anakan 20-30 cm. Padatkan media tanam yang berdekatan dengan anakan itu agar bisa beridiri tegak dan kokoh.

Teknik Generatif

Biji dapat dihasilkan oleh tanaman sikas ketika umur tanaman telah mencapai belasan tahun. Biji biji inilah yang akan dipakai untuk perkembangbiakan. Caranya, biji disemaikan dalam pot kecil yang telah diisi campuran tanah, pasir dan pupuk kandang dengan perbandingan 1:1:1. Seraya menunggu, rajin rajinlah melakukan penyiraman. Biasanya enam bulan kemudian mulai muncul daun daun muda. ama kelamaan, daun daun itu menjadi hijau tua dan mengeras. Itu berarti, bibit asal biji sudah bisa dipindahkan.

Itulah cara budidaya tanaman sikas yang bisa anda praktekkan, tidak terlalu sulit bukan?

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *