Cara Menanam Jahe Merah di Lahan Terbuka

Keberhasilan budidaya jahe merah ditentukan oleh penggunaan varietas unggul dan teknik budidaya yang benar. Secara umum, cara menanam jahe merah di lahan terbuka yang mengacu pada standar praktik pertanian yang baik atau Good Agricultural Practice (GAP) sebagai berikut :

Penyiapan Bibit Jahe Merah

Tanaman jahe merah pada umumnya diperbanyak secara vegetatif menggunakan rimpang. Bibit jahe yang digunakan harus memenuhi syarat, antara lain rimpang jelas asal usulnya, berumur tua (9 – 12 bulan), sehat (bebas hama dan penyakit), tidak memar atau tidak lecet dan tidak tercampur dengan varietas lain. Selain itu, rimpang bibit telah mengalami penyimpanan selama 1-2 bulan, sehingga mempunyai 2-3 mata tunas yang baik dan telah tumbuh. Rimpang jahe yang telah terinfeksi penyakit tidak dapat digunakan sebagai bibit karena akan menjadi sumber penularan penyakit di lapangan.

Bobot rimpang yang akan dijadikan bibit sekitat 20 – 40 g/rimpang. Ciri ciri rimpang tua antara lain kandungan serat tinggi dan kasar, kulit licin dan keras tidak mudah mengelupas, warna kulit mengkilat menampakan tanda bernas. Pemilihan bibit jahe merah sebaiknya dilakukan sejak tanaman masih di lapangan. Apabila terdapat tanaman yang terserang penyakit atau tercampur dengan jenis lain, segera dicabut dan dijauhkan dari areal pertanaman. Pemilihan (penyortiran) selanjutnya dilakukan setelah panen di gudang penyimpanan. Pemeriksaan rimpang dilakukan untuk membuat bibit yang terinfeksi hama dan penyakit atau varietas lain. Kebutuhan bibit untuk jahe merah sekitar 1 – 1,5 ton/ha. Bagian rimpang yang terbaik dijadikan bibit adalah rimpang ruas kedua dan ketiga.

Sebelum ditanam, rimpang bibit jahe ditunaskan terlebih dahulu dengan cara disemai. Caranya, hamparkan rimpang jahe merah diatas jerami atau alang alang tipis di tempat yang teduh atau di dalam gudang penyimpanan dan tidak ditumpuk. Sarana penyemaian ini biasanya digunakan wadah atau rak yang terbuat dari bambu atau kayu sebagai alas. Selama penyemaian rimpang jahe, dilakukan penyiraman setiap hari sesuai kebutuhan untuk menjaga kelembapan rimpang. Bibit rimpang jahe yang bertunas setinggi  1 – 2cm dan seragam, siap ditanam di lapangan. Bibit rimpang yang sudah bertunas dapat beradaptasi langsung dengan kondisi di lahan terbuka (kebun) dan juga tidak mudah rusak.Rimpang yang sudah bertunas tersebut kemudian diseleksi dan dipotong menurut ukuran. Dilakukan perendaman rimpang jahe di dalam antibiotik (bakterisida) dengan dosis anjuran seperti yang tertera di labelnya selama sekitar 5 menit untuk mencegah infeksi bakteri. Pedoman umum pembuatan larutan bakterisida, misalnya Agrimycin sebanyak 30 gram dalam 100 liter air cukup untuk merendam 1 ton rimpang jahe. bibit jahe dikeringanginkan selama 2 – 4 jam hingga siap ditanam di lahan terbuka yang telah disiapkan.

Penyiapan Lahan Untuk Menanam Jahe Merah

Penyiapan lahan pada prinsipnya melakukan pengolahan tanah, membuat bedengan atau guludan hingga siap ditanami. Pengolahan tanah biasanya disesuaikan dengan rencana tanam, yaitu pada awal musim hujan (Oktober). Meskipun demikian, pengolahan tanah dapat dilakukan sepanjang tahun asalkan keadaan airnya mencukupi. Pengolahan tanah dikerjakan minimal 2 minggu sebelum tanam.

Tanah dibersihkan dari rumput liar (gulma), kemudian diolah (dicangkul, dibajak dan digarpu) sedalam 30 cm hingga gempur. Tanah yang mempunyai lapisan olah (top soil) tipis, pengolahan tanahnya dilakukan secara hati hati agar tidak tercampur dengan lapisan tanah bawah (solum soil). Hal ini dapat mengakibatkan pertumbuhan tanaman jahe kurang subur. Setelah tanah diolah dan digemburkan, kemudian dibuat bedengan atau guludan atau parit yang searah dengan lereng, terutama untuk tanah yang miring. Ukuran bedengan atau guludan atau parit disesuaikan dengan kondisi tanah, tetapi lebarnya maksimum 120 cm untuk memuat 3 barus tanaman jahe merah. Misalnya, panjang bedengan maksimum 12 meter atau disesuaikan dengan keadaan lahan, lebar 60 – 70 cm, tinggi 25 – 30 cm dan jarak antar bedengan 30 – 40 cm.

Pada tanah yang sdah diolah dapat segera ditaburkan sekam padi sebanyak 5 ton/hektar sebagai alas pupuk kandang. Sekam padi tersebut berfungsi untuk meningkatkan kegemburan tanah yang kandungan liatnya tinggi dan memperbesar diameter rimpang jahe. Selanjutnya, di atas sekam padi ditaburkan pupuk kandang sebanyak 20 – 30 ton/hektar. Pupuk kandang tersebut dicampur secara merata dengan lapisan tanah atas. Tanah diratakan dan dapat segera membuat lubang tanam sebagai persiapan untuk penanaman bibit jahe.

Cara Menanam Jahe Merah

Pola tanam dalam budidaya jahe merah dapat dilakukan secara tunggal (monokultur) dan tumpangsari. Jahe merah dapat ditumpangsarikan dengan tanaman semusim lainnya, sesuai sasaran pemasaran untuk meningkatkan produktivitas lahan, keragaman produksi dan pendapatan. Misalnya, di antara tanaman ditanam kacang merah, bawang merah atau cabai rawit. Pola tanam terkait langsung dengan jarak tanam dan waktu tanam.

Waktu tanam yang paling baik pada awal musim hujan (Oktober – Desember). Pada daerah daerah yang mendapatkan curah hujan merata sepanjang tahun atau airnya tersedia memadai, maka penanaman jahe merah dapat dilakukan setiap waktu. Jarak tanam jahe bervariasi, tergantung tngkat kesuburan tanah, pola tanam dan tujuan panen rimpang. Pada pola tanam tunggal (monokultur) jahe dapat ditanam dengan jarak tanam 60 – 80 cm (antar baris) dan 30 – 40 cm (dalam baris) untuk dipanen rimpang tua. Alternatif jarak tanam lainnya yaitu 25 – 40 cm x 45 – 60 cm, bahkan pada tanah yang subur dapat digunakan jarak tanam rapat 45 x 25 cm terutama untuk panen rimpang muda umur 3,5 – 4 bulan.

Cara menanam jahe merah, mula mula dibuat tempat tanam berupa alur alur sedalam 19 – 15 cm sesuai jarak tanam yang diterapkan. Selanjutnya bibit jahe merah ditanam dengan cara meletakkan bibit dalam alur alur sedalam  3 – 5 cm dengan posisi tunas menghadap ke atas. Bibit tersebut segera ditimbun dengan tanah. Berasama sama waktu tanam, dibuat alur alur melingkar atau searah panjang bedengan, sejauh 10 cm dari tempat bibir jahe ditanam. Ke dalam alur alur tersebut dapat segera ditaburkan secara merata pupuk dasar berupa SP-36 sebanyak 150 – 400 kg/ha dan Furadan 3 G sebanyak 10 kg/ha. Timbun pupuk dasar tersebut dengan tanah setebal 5 cm. Seusai menanam jahe merah dan memberi pupuk dasar, sebaiknya dilakukan penutupan permukaan tanah (pemulsaan) dengan jerami padi atau sekam padi setebal 3 – 5 cm setara dengan 3 – 5 ton/ha. Pemulsaan ini berpengaruh baik terhadap ertumbuhan dan produksi jahe merah.

Pemeliharaan Jahe Merah

Tentu saja cara menanam jahe merah di lahan terbuka tidak hanya sampai sini. Usaha budidaya tanaman jahe merah secara intensif membutuhkan pemeliharaan tanaman yang teliti, kontinu dan teratur. Pemeliharaan tanaman jahe meliputi kegian pokok sebagai berikut :

Pengairan

Pengairan penting diperhatikan pada fase awal pertumbuhan tanaman jahe merah. Pengairan dilakukan secara kontinu 3 – 5 hari sekali, tergantung cuaca dan kondisi kelembapan tanah. Pengairan selanjutnya dikurangi, karena apabila tanah terlalu basah dapat menyebabkan busuknya rimpang jahe. Pengairan dilakukan pagi atau sore hari. Cara mengairinya sebaiknya dengan mengalirkan air ke lokasi kebun jahe,kemudian dileb selama sekitar 15 menit hingga tanah cukup basah (lembap_. Selanjutnya, air dari petakan tanaman jahe merah dibuat melalui saluran pembuangan air.

Penyulaman

Pernyulaman tanaman jahe merah yang tidak tumbuh dilakukan pada umur 1 – 1,5 bulan setelah tanam (bst) dengan bibit cadangan yang sudah diseleksi dan disemaikan. Penyulaman yang terlambat menyebabkan pertumbuhan tanaman tidak seragam. Caranya, buat lubang tanam pada bekas tanaman jahe merah yang mati, kemudian masukkan bibit jahe yang baru sambil ditutup dengan tanah. Bila cuacanya kering sebaiknya seusa menyulam segera dilakukan pengairan atau penyiraman hingga tanahnya cukup lembap.

Penyiangan

Sejak bibit jahe merah ditanam hingga berumur 6 – 7 bulan, biasanya di lahan terbuka tersebut banyak tumbuh rumput liar (gulma), sehingga penyiangan perlu dilakukan secara intensif hingga bersih. Interval penyangan bergantung pada keadaan pertumbuhan gulma. Pada umumnya penyiangan dilakukan tiap bulan. Penyiangan setelah umur 4 bulan perlu dilakukan secara hati hati agar tidak merusak perakaran yang dapat menyebabkan masuknya bibit penyakit.

Peniangan biasanya dilakukan bersama sama dengan kegiatan pemupukan dan pembumbunan agar menghemat biaya dan tenaga kerja. Upaya untuk mengurangi intensitas penyiangan bisa digunakan mulsa jerami atau sekam padi. Cara menyiangi, mula mula mencabut atau membersihkan gulma secara hati hati agar tidak merusak akar tanaman jahe, kemudian mengubur gulma tersebut dalam lubang untuk dijadikan kompos.

Pembumbunan

Kegiatan ini mulai dilakkan pada saat telah terbentuk rumpun dengan 4 – 5 anakan atau umur tanaman jahe sekitar 1 – 1,5 bulan, agar rimpang selalu tertutup tanah. Selain itu, dengan dilakukan pembumbunan, maka tata air (drainase) tanah akan selalu terpelihara. Pembumbunan dapat diulangi hingga 2 kali, yaitu pada saat tanaman jahe berumur 8 – 10 minggu dan 10 – 12 minggu setelah tanam.

Cara membumbun, mula mula mengemburkan tanah, kemudian tanah tersebut ditimbunkan di sekitar pangkal batang tanaman jahe hingga membentuk guludan guludan kecil yang menutup rimang jahe. Rimpang jahe merah yang terkena sinar matahari akan berwarna hijau, sehingga dapat menurunkan kualitas (mutu) rimpang yang dihasilkan.

Pemupukan

Pemupukan tanaman jahe merah sebaiknya berdasarkan hasil analisis tanaman dan tanah dari lokasi tersebut. Pendekatan pemberian pupuk dapat mengacu pada pedoman umum pemupukan dari hasil hasil penelitian atau rekomendasi di daerah setempat. Secara umum, pemupukan tanaman jahe terdiri atas pupuk organik, seperti kotoran domba atau sapi dengan dosis 20 – 30 ton/ha, pupuk anorganik berupa Urea 400 – 600 kg/ha, SP-36 sebanyak 300 – 400 kg/ha dan KCL 300 – 400 kg/ha. Pemberian pupuk tersebut dilakukan secara bertahap. Pupuk kandang seluruh dosis diberikan 2 – 4 minggu sebelum tanam atau saat tanam bersama sama dengan dosis pupuk SP 36 dan KCL yang telah kita bahas di bagian cara menanam jahe merah diatas. Sementara pupuk Urea diberikan 3 kali, yaitu pada waktu tanaman jahe berumur  1,2 dan 3 bulan setelah tanam, masing masing 1/3 dosis setiap pemberian. Pemupukan dilakukan dengan cara menaburkannya sampai merata ke dalam alur alur yang dibuat di sepanjang barisan tanaman jahe merah sejauh 10 – 15 cm dari bibit atau pangkal tanaman jahe merah, kemudian ditutup dengan tanah setebal 10 cm. Seusai pemupukan sebaiknya dilakukan pengairan agar pupuk tersebut cepat larut dan meresap ke dalam tanah sehingga epat dimanfaatkan tanaman jahe.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *