Cara Perkembangbiakan Cacing Tanah

Perkembangbiakan cacing tanah dilakukan secara seksual. Cacing tanah bersifat hermafrodit artinya pada setiap ekor cacing tanah terdapat alat kelamin jantan dan alat kelamin betina. Meskipun demikian untuk menghasilkan kokon yang berisi anakan cacing, cacing tanah harus hidup berpasangan.

Cacing tanah tidak dapat melakukan perkembangbiakan sendiri dikarenakan diantara alat kelamin jantan dan betinanya tidak ada saluran yang saling menghubungkan. Alat kelamin jantannya biasanya terletak pada segmen ke-9 sedangkan alat kelamin betinanya pada segmen ke-15 bagian tubuhnya. Ciri cacing tanah dewasa yang siap melakukan perkawinan adalah terbentuknya klitelum (cincin, gelang). Klitelum akan muncul pada cacing tanah yang telah berumur lebih dari 2,5 bulan.

Proses Perkembangbiakan Cacing Tanah

Cara berkembang biak cacing tanah berlangsung unik dan spesifik. Kedua cacing tanah yang berpasangan saling melekatkan bagian depannya (anterior) dengan posisi saling berlawanan yang diperkuat oleh seta. Dalam posisi perkawinan (kopulasi), klitelum masing-masing cacing tanah akan mengeluarkan lendir yang berfungsi melindungi sel-sel sperma yang dikeluarkan oleh lubang alat kelamin jantan masing-masing.

Perkembangbiakan cacing tanah adalah dengan Perkawinan silang (cross fertilization) dimana dua ekor cacing dewasa akan saling bertukar spermatozoid. Proses cross fertilization tersebut seperti yang dapat anda lihat di gambar diatas.

Sel-sel sperma yang keluar dari masing-masing cacing tanah akan bergerak ke bagian posterior, kemudian masuk ke dalam lubang penerima sperma. Setelah kantung ovarium masing-masing cacing menerima sperma maka terjadilah pembentukan selubung konon (mucous band). Proses pembentukan selubung kokon ini terjadi pada klitelum. Sel telur yang telah dilindungi kokon akan bergerak ke arah mulut dan bertemu dengan lubang saluran sel telur dan masuk ke dalam selubung kokon.

Selubung kokon yang berisi beberapa telur (capsule) akan dilepaskan dalam liang tanah. Setiap butir kokon berisi bakal anak-anak cacng, bahkan dapat menetas lebih dari 10 ekor anak cacing di dalam 1 kokon. Meski demikian, dari setiap kokon umumnya menetas 3 – 5 ekor cacing. Ukuran kokon tergantung kepada jenis cacing tanah. Misalnya, Lumbricus rubellus menghasilkan kokon berukuran panjang 3,87 mm dengan lebar atau ketebalan sekitar 3,17 mm.

Kokon berbentuk bulat sampai agak lonjong, mula-mula berwarna kuning kehijau-hijauan, kemudian berubah menjadi kemerah-merahan. Kokon menetas setelah 14 – 21 hari. Produktivitas kokon dari seekor cacing tanah dapat dihasilkan lebih dari dua kokon setiap 5 – 10 hari atau tergantung jenis cacing tanahnya.

Siklus Hidup Cacing Tanah

Cacing tanah dapat hidup hingga berumur 5 tahun. Siklus hidup dari cacing tanah adalah sebagai berikut :

  1. Cacing dewasa akan melakukan perkawinan silang (cross fertilization).
  2. 6 – 10 hari kemudian, kokon akan dikeluarkan cacing ke dalam tanah.
  3. 2 – 3 minggu berikutnya kokon menetas dan keluarlah anakan cacing.
  4. 2,5 bulan kemudian anakan cacing tersebut akan tumbuh menjadi cacing dewasa yang siap untuk bereproduksi kembali.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *