Ciri Ciri Filum Platyhelminthes

Filum Platyhelminthes adalah takson dari sekelompok hewan cacing yang ciri utamanya adalah memiliki tubuh pipih. Kelompok cacing ini jumlahnya sekitar 25.000 spesies yang terdiri atas 3 kelas, satu kelas (Turbellaria) berisi cacing-acing pipih yang hidup bebas dan 2 kelas lainnya (Trematoda dan Cestoda) berisi cacing-cacing pipih yang hidupnya pasarit. Jenis-jenis cacing yang bersifat parasit ini mendominasi filum Platyhelmintes yang mencapai 80% dari jumlah spesies kelompok ini.

Ciri Platyhelminthes

Secara umum, Ciri – Ciri Platyhelminthes diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Tidak memiliki rongga tubuh

Semua cacing pipih ini tidak berongga tubuh (acoelomate), triploblastik dan bersimetri bilateral. Cacing Turbellaria dianggap oleh para ahli biologi sebagai hewan bilateral yang paling awal (primitif) dan merupakan kelompok hewan pertama yang mempunyai mesoderm sehingga dapat dikatakan bahwa semua hewan berongga sejati merupakan evolusi dari Platyhelminthes. Hal tersebut berarti pula bahwa cacing Trematoda dan Cestoda merupakan hasil evolusi dari cacing Platyhelminthes ini.

Walaupun cacing pipih tidak memiliki rongga tubuh, perkembangan embrionya seperti hewan protostomia berongga sejati (coelomate protosomia), yaitu lubang mulut berasal dari lubang blastoporus. Lapisan sel-sel mesodermal embrio berkembang menjadi jaringan parenkim. Jaringan parenkim ini mengisi seluruh rongga tubuh antara ektoderm dan endoderm sehingga tiada lagi rongga tersisa, hal inilah yang menyebabkan cacing ini disebut sebagai hewan acoelomota.

2. Mulut berfungsi sebagai lubang keluar masuk

Oleh karena tidak memiliki anus, lubang mulut dari cacing Platyhelminthes merupakan satu-satunya lubang yang menuju sistem pencernaan sehingga lubang ini berfungsi ganda, selain sebagai mulut juga sebagai anus.

3. Pertukaran gas secara difusi

Anggota filum Platyhelmintes tidak memiliki organ respirasi maupun sistem sirkulasi walaupun beberapa spesies mempunyai hemoglobin. Pertukaran gas dilakukan oleh permukaan tubuh dengan difusi sederhana. Kepipihan tubuh cacing ini menyebabkan rasio antara luas tubuh dan volume tubuh menjadi besar sehingga memudahkan proses pertukaran gas walaupun tidak mempunyai insang atau sistem sirkulasi.

4. Ekskresi menggunakan protonefrida

Untuk ekskresi, cacing ini memiliki organ / sel khusus yang disebut protonefridia atau ginjal primitif. Ginjal ini berbentuk mangkuk yang di dalamnya terdapat sekelompok silia. Dalam keadaan hidup, silia bergerak bagaikan lidah api sehingga protonefridia disebut juga dengan nama sel api atau sel obor (flame cell). Sel api ini berfungsi menjaga keseimbangan ion dan air selain membuang sisa-sisa hasil metabolisme tubuh seperti amonia.

5. Bersifat hermafrodit

Dalam hal reproduksi, hampir semua cacing Platyhelminthes bersifat hemafrodit simultan yang berarti setiap individu cacing  setiap saat dapat berfungsi sebagai cacing jantan ataupun cacing betna. Walaupun memiliki organ kelamin jantan dan betina dalam setiap tubuh individu, cacing ini tidak dapat membuahi sel telurnya sendiri, harus ada individu lain dari spesiesnya untuk bertukaran sel-sel sperma.

Peranan Platyhelminthes

Itulah 5 ciri yang dimiliki filum Platyhelminthes, hal ini penting untuk dipelajari dikarenakan mereka merupakan parasit terhadap manusia. Salah satu spesiesnya yang penting adalah Schistosoma mansoni. Ia menjadi penyebab penyakit sistosomiasis yang telah menyerang sekitar 200 juta manusia. Oleh sebab itu, banyak ahli biologi mencari jalan untuk penanggulangan penyakit tersebut. Beberapa cara yang dilakukan untuk menekan penyebaran cacing Platyhelminthes ini ialah mematikan cacing sebelum bertelur, mengendalikan populasi siput air yang bertindak sebagai vektor dan memberikan pengobatan pada penderita sehingga dapat mematikan cacing penyebab penyakit tersebut.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *