Contoh Protozoa Parasit Pada Ikan dan Pengobatannya

Protozoa merupakan salah satu penyebab utama penyakit pada ikan dan tak jarang menyebabkan kematian secara massal. Oleh karena itu contoh protozoa parasit pada ikan dan cara pengobatannya ini menjadi hal yang penting untuk diketahui khususnya bagi para pembudidaya ikan.

Ichthyophthirus multifilis

Merupakan contoh protozoa yang paling sering memusingkan para pembudidaya ikan baik ikan konsumsi maupun ikan hias. Kehadiran dari protozoa ini ditandai dengan timbulnya bintik bintik putih di kulit dan sirip, oleh karena itu penyakit yang diakibatkan oleh Ichthyophthirus multifilis ini disebut dengan penyakit white spot. Gejala lain yang menyertai adalah ikan sering menggosok gosokan badannya ke benda benda yang berada di dalam kolam atau akuarium, dimana perilaku ikan tersebut justru akan mempercepat penyebaran protozoa ini.

Protozoa ini dapat menmbulkan kerusakan kulit dan sirip yang cukup parah yang dapat menyebabkan kematian, selain itu penyebarannya juga sangat cepat, pada budidaya ikan dalam sebuah kolam massal Ichthyophthirus ini dapat menyebar keseluruh ikan di kolam dalam hitungan beberapa hari saja.

Penurunan suhu lingkungan yang relatif drasts menjadi penyebab awal perkembangan populasi protozoa ini, sehingga menaikkan suhu air sampai 30 C saat pengobatan dapat mempercepat proses penyembuhan. Selain menaikkan suhu pembuatan penggunaan Acriflavin efektif untuk menghadapi serangan protozoa ini. Dosis yang dapat dipakai adalah dengan melarutkan  0,5 gram bubuk Acriflavin ke dalam 100 liter air dan ikan direndam selama 3 hari – 7 hari, tergantung tingkat keparahan.

Costia necatrix

Contoh protozoa ini merupakan flagellata yang koloninya dapat melekat di kulit ikan dan kemudian merusaknya. Secara perlahan mereka merusak lapisan lendir, kemudian masuk ke lapisan kulit selanjutnya. Melepasnya lapisan sisik merupakan pertanda bahwa ikan sudah terinfeksi protozoa ini. Lapisan kulit ikan akan terlihat memar kemerah merahan. Serangan protozoa ini sering kali diikuti pula oleh infeksi jamur, sehingga filamen filamen putih dijumpai di sekitar daerah kulit yang memar.

Perlu diketahui bahwa timbulnya penyakit ini merupakan pertanda melemahnya daya tahan tubuh ikan. Jika hal ini terjadi, anda perlu memperhatikan kembali prosesdur perawatan yang telah dilakukan. Perlu diketahui pula, serangan protozoa ini jarang menimpa ikan dewasa sebab ikan dewasa yang sehat dapat menahan serangan Costia ini.

Costia juga rentan terhadap temperatur yang melebihi 30C, sehingga selama terapi pengobatan dilakukan, dianjurkan untuk menaikkan temperatur air sampai 32C.

Metode pegobatan yang dapat dilakukan untuk menanggulangi serangan protozoa ini juga dapat dilakukan dengan perendaman Acrifalin tetapi dengan dosis 1 gram bubuk Acriflavin ke dalam 100 liter air dan ikan direndam selama 5 hari.

Oodinium

Contoh protozoa parasit pada ikan yang terakhir adalah Oodinium yang sering menyerang khususnya pada ikan hias. Serangan protozoa ini akan mengakibatkan warna kulit ikan menjadi gelap. Jika ikan dilihat dari depan secara membujur, permukaan kulit akan terlihat bertekstur seperti beludru.

Oodinium ini memang menyerang lapisan kulit ikan, tetapi gejala yang lebih dikenali adalah berkumpulnya koloni ikan di salah satu sisi akuarium / kolam. Biasanya, mereka akan saling berimpitan di pojk akuarium, saling merebahkan diri di dasar akuarium, atau berkumpul mendekati permukaan air. Kondisi seperti in yang seringkali membuat panik dan terkesan sulit untuk disembuhkan. Jika tidak ditangani dengan tepat, penyakit ini sering kali menyebar ke kolam kolam lain dan menyebabkan terjadinya wabah.

Oodium merupakan contoh protozoa yang tergolong flagellata, tepatnya kelompok dinoflagellata, berbeda dengan flagellata lainnya, Oodinium hanya memiliki flagel saat berada pada fase kehidupan yang disebut dinospores yang relatif singkat. Dinospores ini dapat berenang bebas, akan berusaha mencari inang (dalam hal ini ikan) dan melekatkan diri di sana. Segera setelah melekat di permukaan kulit ikan, mereka melepaskan flagel dan membentuk rhizoid, suatu bentuk filamen seperti akar. Rhizoid ini akan tumbuh dan melakukan penetrasi ke dalam sel sel epithelium penghasil lendir, lalu menyerap nutrisi yang diperlukan. Aktivitas ini lama kelamaan akan menyebabkan rusaknya jaringan kulit akibat matinya sel sel kulit.

Sampai saat inni, serangan Oodinium ini dianggap oleh beberapa orang sulit ditangani. Secara rasional, hal tersebut dapat dijelaskan dengan sangat potensialnya kemungkinan terjadinya penetrasi penetrasi parasit sekunder, mengikuti serangan awal. Pada saat terjadi penetrasi awal oleh protozoa ini, daya tahan tubuh ikan menurun dengan drastis. Hal tersebut seolah membuka pintu bagi berbagai mikroorganisme patogen lainnya untuk turut berperan serta. Beberapa jenis bakteri dan jamur dijumpai turut menginfeksi lapisan kulit pada kasus terjadinya serangan Oodinium.

Karena itu, penanganan terhadap serangan protozoa ini perlu dilakukan sedini mungkin dengan mengamati gejala gejala awal yang terjadi. Penggunaan dosis pengobatan yang tepat juga berperan pentiing untuk mempercepat reduksi bibit penyakit.

Metode pengobatan yang dapat dilakukan untuk menangani serangan protozoa ini adalah metode Neomycin Sulfate dan telah terbukti efektif untuk terapi terhadap serangan Oodinium. Bentuknya berupa bubuk putih yang mudah larut di dalam air. Dalam kelembapan tinggi, Neomycin Sulfate akan mencair sehingga memerlukan penangan yang baik dalam penyimpanannya. Cara penggunannya adalah dengan melarutkan 2 gram Neomycin Sulfate ke dalam 100 liter air yang dapat digunakan untuk 3 hari pemakaian.

Itulah 3 contoh protozoa parasit pada ikan, hal terpenting dalam menangani serangannya adalah dengan mendeteksi secara dini dan kemudian segera diobati.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *