Hak dan Kewajiban Petani Bagi Indonesia

Telah kita sadar bahwa peranan petani bagi kehidupan kita sungguh luar biasa. Dalam artikel sebelumnya saya telah mengulas mengenai betapa pentingnya peranan petani. Andai 50% petani berganti pekerjaan tentu kita akan kesusahan dan harga bahan makanan akan melonjak tajam. Tapi pernahkah kita sadari, bahwa ada hak dan kewajiban petani bagi Indonesia.

Di negeri kita yang tercinta ini, yang dulunya sebagian besar masyarakatnya bangga menjadi petani dan kita pernah merasakan kehebatan petani kita di jaman Bapak Soeharto. Pada saat itu kita mengalami apa itu yang disebut dengan swasembada pangan, kita tidak bergantung impor dari luar negeri tetapi kita justru bisa mengekspor keluar negeri.

Berbeda di jaman Pak Jokowi yang tercinta ini, dimana bahan pokok sebagian besar justru impor secara besar – besaran membuat hati saya miris karena dijaman ini petani kita kehilangan tajinya. Produksi kita tidak mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri, apakah ini semua dikarenakan petani tidak dapat menunaikan kewajibannya ? Atau karena berbagai hak dari petani tidak dapat Indonesia berikan sehingga pekerjaannya tidak optimal ?

Kewajiban Petani

Dalam topik hak dan kewajiban petani, masalah hak yang biasanya lebih sering dibahas. Sebut saja misalnya petani meminta adanya pupuk subsidi dari pemerintah, petani meminta harga jual hasil panennya tidak terlalu rendah dan lain sebagainya.

Masalah kewajiban ini jarang sekali diulas, mungkin karena takut menyinggung para petani yang ada di negeri kita. Paling tidak ada 3 kewajiban yang dimiliki petani di dalam menjalankan pekerjaannya, yaitu :

  1. Petani wajib memelihara tanah dengan baik agar tanaman yang dibudidayakannya tumbuh maksimal.
  2. Petani wajib memelihara tanaman dengan baik agar hasil panen melimpah.
  3. Petani wajib menjaga kelestarian lingkungan.

Dari 3 kewajiban petani tersebut nampaknya kurang dijalankan dengan baik, yang paling sering dilanggar adalah kewajiban nomer 1 dan 3. Banyak petani di jaman sekarang menggunakan pupuk dan pestisida kimia secara serampangan dan tentunya mengakibatkan kerusakan di lingkungan tempat ia menanam.

Tahukah wahai petani, bahwa pupuk kimia yang anda berikan secara berlebihan itu justru akan merusak kesuburan tanah secara jangka panjang yang untuk mengembalikan lagi kesuburan itu memerlukan waktu dan biaya yang tidak sedikit ? Tahukah wahai para petani, bahwa pestisida kimia yang engkau semprotkan secara sembarangan akan mematikan hewan – hewan lain yang ada disekitar lahanmu yang akan merusak keseimbangan ekosistem yang ada.

Akibat rusaknya ekosistem itu, dapat mengakibatkan permasalahan secara jangka panjang bagimu, contohnya saja serangga hama akan menjadi resisten terhadap pestisida dan predator hama akan punah yang akan mengakibatkan lonjakan populasi hama sehingga akhirnya menyebabkan kegagalan panen.

Hak Petani

Di Indonesia saat ini profesi petani masih dipandang sebelah mata, sangat jarang orang berpendidikan (lulusan S1 keatas) yang mau jadi petani. Kebanyakan orang Indonesia itu inginnya saat lulus kuliah menjadi pegawai, karena menurut mereka menjadi petani itu prospek di masa depannya kurang menjanjikan.

Apakah benar seperti itu ? Bisa jadi karena banyak hak petani yang belum diberikan oleh bangsa Indonesia. Paling tidak terdapat 4 hak yang dimiliki petani yaitu :

  1. Petani berhak mendapatkan harga jual yang baik.
  2. Petani berhak mendapatkan pupuk subsidi.
  3. Petani berhak lahan dan tanamannya tidak diganggu.
  4. Petani berhak menenutukan kepada siapa ia menjual hasil panennya.

Dari keempat hak petani ini tampaknya banyak yang belum bisa diberikan. Banyak petani yang masih kesulitan untuk mendapatkan pupuk subsidi di jaman pemerintahan Pak Jokowi, hal tersebut berbeda dengan di jaman Bapak Soeharto dimana saat itu pupuk subsidi mudah untuk didapatkan. Sehingga wajar jika saat itu kita bisa swasembada pangan karena kebutuhan pupuk terjamin.

Petani saat ini juga sering mendapatkan harga jual yang merugikan, dimana saat mereka panen harga jual justru anjlok. Belum lupa ingatan saya di tahun 2019 lalu, para petani buah naga membuang hasil panennya ke sungai karena menurut mereka harga jual terlalu rendah. Bayangkan, hasil dari tanaman yang mereka urus selama berbulan-bulan dibuangnya karena mereka tidak rela hasil jerih payahnya dihargai sangat rendah. Disini dibutuhkan peran serta pemerintah untuk membeli hasil panen petani sehingga bisa memberikan kesejahhteraan bagi mereka.

Saat ini kita juga sering mendengar kasus para petani lahannya digusur. Sebut saja kasus penggusuran petani lahat oleh PT. Artha Prigel, bahkan di kasus tersebut ada petani yang dibunuh. Dimana pemerintah Pak Jokowi saat itu ? Entahlah, sampai artikel ini ditulis kasus tersebut belum selesai.

Itulah Hak dan kewajiban petani bagi Indonesia, banyak dari hak dan kewajiban tersebut belum bisa terlaksana dengan baik. Mungkin itulah sebabnya mengapa sekarang ini, hasil pertanian Indonesia tidak sebaik saat era presiden sebelumnya.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *