Hama Tanaman Padi dan Pengendaliannya

Padi merupakan jenis tanaman yang paling banyak di budidayakan di Indonesia. Sayangnya sering kali petani gagal panen diakibatkan serangan hama dan penyakit terhadapnya. Oleh karena itu pada artikel kali ini, mari kita membahas tentang apa saja sih organisme yang menjadi hama dan tentang cara pengendaliannya.

Pengelompokkan Hama Tanaman Padi

Menurut Ir. Nur Tjahjadi dalam bukunya hama dan penyakit tanaman, hama tanaman padi dapat dikelompokkan menjadi 7 kelompok, yaitu :

  1. Hama perusak persemaian : Tikus, ulat tanah, ulat grayak dan lalat bibit
  2. Hama perusak akar : Nematoda, anjing tanah, uret (larva Coeloptera) dan kutu akar padi
  3. Hama perusak batang : Tikus, penggerek batang dan hama ganjur
  4. Hama perusak daun : Pengorok daun, kumbang, belalang, ulat tanah dan ulat kantung
  5. Hama penghisap daun : Thrips, kepik, walang sangit, wereng cokelat dan wereng hijau
  6. Hama perusak buah : Walang sangit, kepik, ulat, tikus dan burung
  7. Hama di penyimpanan : Ulat, kumbang dan tikus

Mengetahui kelompok hama padi ini sangat penting, karena dengan mengetahui hama apa saja yang menyerang pada saat masa tanam tertentu maka kita jadi mengetahui cara pengendalian yang tepat seperti apa.

Jenis Hama Padi

Tikus (Rattus rattus argentiventer)

tikus sawahTikus menjadi momok dari para petani padi, hal ini dikarenakan hewan ini dapat merusak taman padi secara masif dan cepat. Tiap tahunnya ribuan atau malah puluhan ribu hektar sawah yang bisa dirusak oleh tikus ini. Apalagi indukan betina hama ini melahirkan mendekati masa panen padi sehingga tak jarang pada saat tanaman padi memasuki masa panen populasi tikus justru sedang ada masa puncaknya.

Tanda tanda  sawah yang mengalami serangan tikus adalah adanya tikus yang terlihat berkeliaran di sekitar sawah, ada liang tikus di sekitar lahan pertanian, ditemukan kotoran tikus di sekitar lahan tikus dan adanya potongan potongan padi yang bekas dirusak tikus. Pengendalian hama padi ini, dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu :

  1. Pemberian racun tikus, racun ini ada dua jenis yaitu racun akut dan antikoagulan, racun akut akan mematikan tikus selama beberapa jam, sedang racun antikoagulan mematikan tikus 3 – 5 hari setelah tikus makan umpan beracun.  Jika populasi tikus di sekitar lahan sawah cukup tinggi anda bisa menggunakan keduanya sedangkan jika baru dalam jumlah sedikit anda bisa menggunakan salah satunya.
  2. Gropyokan, yaitu sebah tradisi yang ada di masyarakat jawa dimana  secara bersama sama di dalam satu desa berburu tikus. Bahkan di beberapa wilayah dilakukan pemberian sejumlah nominal uang untuk setiap tikus yang berhasil diburu.
  3. Emposan, yaitu dengan cara membakar campuran belerang dan merang ke dalam lubang tikus,  pastikan sebelum membakas campura beleran dan merang ini anda telah menutup semua lubang tikus sehingga, tikus tidak bisa kabur.
  4. Pengendalian biologis, yaitu dengan melepaskan musuh alami tikus seperti ular sawah, burung hantu dan kucing. Di Daerah kaliurang, Sleman pengendalian biologis dilakukan dengan membuat kandang kandang burung hantu dan pelepasan burung hantu di areal sawah supaya burung hantu ini melakukan perburuan ke tikus yang ada disekitar sawah. Perlakuan ini juga berhasil mengingat selama penggunaan cara ini populasi tikus di sekitar sana turun secara drastis.
  5. Penanaman padi secara serentak di dalam suatu wilayah, hal ini menyebabkan pada masa tidak dilakukan penanaman tikus di sekitar lahan pertanian akan mengalami kelaparan karena tidak adanya makanan sehingga menyeabkan turunnya populasi tikus.

Ulat tanah (Agrotis ipsilon)

anjing tanahHama satu ini mungkin kurang terkenal karena memang ulat tanah ini hanya menyerang pohon yang baru berkecambah. Serangga yang termasuk ke dalam famili Noctuidae dan ordo lepidoptera ini aktif pada malam hari. Cara pengendaliannya tidaklah sulit, dilakukannya pengolahan tanah (pembajakan) dengan benar dan juga adanya jumlah air yang cukup dilingkungan persawahan sudah dapat membuat populasi ulat tanah ini tidak berkembang.

Ulat grayak

ulat grayakSebenarnya yang dinamakan ulat grayak in tidak hanya satu spesies saja. Yang termasuk ulat grayak itu 4 spesies dari genus Spodoptera, yaitu Spodoptera mauritia, Spodoptera exempta, Spodoptera exigua dan Spodoptera litura. Serangga yang termasuk ke dalam famili Noctuidae dan Ordo Lepidoptera ini meletakkan telurnya di daun rumput yang ada di sekitar sawah. Setelah telur menetas, larva (fase ulat) akan pindah ke tanaman padi, tembakau atau tebu untuk memakan daunnya. Tanaman padi yang menjadi sasaran hama ini adalah tanaman yang masih kecil.

Pengendalian ulat grayak tidaklah susah, membersihkan gulma (terutama rerumputan) di sekitar sawah sudah dapat menekan populasi hama padi ini. Jika terjadi wabah, anda bisa menggunakan insektisida sistemik atau insektisida racun perut untuk mengendalikan populasinya.

Lalat Bibit (Atherigna oryzae dan A. exigua)

Serangga ini biasanya menyerang bibit padi, imago serangga akan meletakkan telurnya di daun bibit pagi pada sore atau malam hari. Dua hari kemudian telur menetas dan akan mulai memakan bibit padi tersebut sehingga dapat menyebabkan kematian bibit ini. Biasanya serangga ini menyerang dan mewabah saat kondisi udara lembab (musim penghujan). Pengendalian hama ini biasanya dilakukan dengan menanam varietas padi yang resisten terhadap serangannya, banyak varietas padi yang tahan terhadap hama ini seperti varietas Cidenuk, IR 64, IR 48 dan lain lain.

Nematoda

Hama nematoda yang menyerang padi adalah Aphelenchooides besseyi, Ditylenchus angustus dan Hirachamanniella oryzae. Di Indonesia hama nematoda jarang mewabah di karenakan benih unggul padi yang dikembangkan di negara kita kebanyakan sudah resisten terhada nematoda. Di negara lain seperti india, hama ini merupakan salah satu pengganggu pertanian yang cukup merepotkan dan sering mengakibatkan kegagalan panen pada pertanian padi.

Anjing Tanah

anjing tanahDikenal juga dengan sebutan orong orong, hewan yang hidup di tanah ini memilki nama latin Gryllotalpa hirsuta. Anjing tanah cukup sering merusak tanaman padi karena ia akan membuat jalur terowogan di tanah lahan pertanian yang mengakibatkan rusaknya perakaran sehingga pertumbuhan padi akan menjadi lambat dan bahkan bisa menyebabkan kematian. Biasanya tanah yang dibajak dengan baik dapat terbebas dari serangan hama padi ini.

Uret

uretYang disebut uret di indonesia adalah larva dari serangga berordo Coleoptera, tidak semua uret merusak tanaman padi. Hanya larva dari spesies Exopholis hypoleuca, Leucopholis rodida dan Phyllophga helleri (famili Melolonthidae) yang menjadi hama padi.

Perkembangan ketiga uret itu sama karena merupakan famili yang sama. Uret ini mula mula akan memakan humus kemudian uret akan memakan batang dan daun tanaman padi sehingga menyebabkan kematian tanaman. Imago dari uret sendiri (kumbang) sebenarnya juga memakan daun padi tetapi kerusakan yang ditimbulkan biasanya tidak masif dan tergolong kecil jika dibandingkan uretnya. Pengendalian hama ini diarahkan pada sistem bercoock tanam yang baik, seperti pemupukan yang seimbang. Tanaman yang vigornya baik toleran terhadap hama ini.

Kutu akar padi (Tetraneura nigriadominalis)

Hama ini berwarna kuning dengan kaki hitam dan tubuh bagian ventralnya berlilin. Kutu bergerombol ada akar padi atau pangkal batang padi dan menghisap cairan tanaman. Selain mejadi hama tanaman padi, kutu ini juga merusak tanaman tebu, rumput rumputan dan tanaman dikotil lainnya. Luka yang diakibatkan kutu akar padi ini dapat mengakibatkan masuknya jamur, bakteri atau virus ke padi sehingga memperparah keadaan tanaman padi. Untuk pengendaliannya biasanya dilakukan dengan membakar tanaman yang sudah terlanjur terserang dan menanam varian padi yang relatif tahan terhadap hama ini.

Penggerek batang padi

penggerek batang padiYang termasuk penggerek batang padi adalah beberapa spesies hama yaitu, Chilo suppressalis (Penggerek batang padi bergaris), Chilo polychrysus, Scrirpophaga incertulas (Penggerek batang padi kuning), Scirpophaga innotaata (Penggerek batang padi putih) dan Sessamia inferens (Penggerak batang padi jingga).

Tanaman padi yang diserang hama ini akan mengalami sundep yaitu anak padi akan mengalami kerdil bahkan tidak jarang tanaman padi yang terserang akan mati. Jika tanaman yang terserang adalah padi dewasa, batang padi menjadi kering, berwarna kuning dan mudah dicabut. Bulir tanaman padi yang terserang hama in juga akan kosong atau yang disebut sebagai gejala beluk.

Untuk mengendalikan hama penggerek batang padi ini, dapat dilakukan beberapa hal berikut ini

  1. Memunguti telur yang terdapat di persemaian dan daun padi di lapang
  2. Sesudah panen dilakukan penggenangan air 1 – 2 minggu, lalu dibajak dalam keadaan basah, agar ulat / pupa yang bersembunyi pada pangkal batang padi menjadi mati
  3. Menyebar dan menanam benih secara serentak dalam areal pertanaman yang luas, kemudian mengadakan rotasi tanaman dengan tanaman lain yang bukan menjadi inangnya
  4. Memasang lampu perangkap (light trap) agar ngengatnya (fase imago hama) berkurang
  5. Menggunakan insektisida yang bersifat sistemik menurut anjuran petugas pertanian setempat

Ganjur

Hama ganjur ini sejenis lalat, dan termasuk ke dalam Ordo diptera dan Family Cecidomyiidae. Larva merupakan fase yang menyebabkan kerusakan pada tanaman, imago akan bertelur sebanyak 100 250 telur yang diletakkan di tanaman padi sehingga larva memakan jaringan tanaman di antara lipatan daun padi sehingga menyebabkan pertumbuhan padi tidak normal. Pengendalian hama ini diarahkan pada penanaman varietas yang resisten, penggenangan areal pertanaman sesudah panen supaya pupa ganja mati, pelepasan musuh alaminya yaitu Platygaster oryzae yang menjadi parasitnya sehingga dapat menekan  populasi hama ini. Penggunaan insektisida untuk mengatasi hama ini kurang efisien dan hasilnya kurang memuaskan.

Pengorok daun (leaf minners)

hama putih padiPenggorok daun memakan jaringan daun yang terdapat di antara epidermis atas dan bawah dari daun, seperti mempunyai terowongan. Pengorok daun ang menjadi hama penting di Indonesia yaitu Nmphola depunctalis (sering disebut hama putih) dan Cnaphalocrosis medinalis (sering disebut hama putih palsu). Sedang pengorok daun yang tidak terlalu sering menyerang adallah kumbang Dicladispa dan lalat Hydrellia.

N. depunctalis (hama putih) menyerang daun padi sejak di persemaian hingga di sawah. Daun padi yang telah dikorok menjadi putih, tinggal kerangka daunnya saja, ngengatnya berwarna putih dengan benang benang coklat pada bagian sayapnya, sehingga sering disebut hama putih. Ngengat betina dapat hidup 2 – 8 hari dan menghasilkan telur kira kira  50 telur.

Larva hama putih in bersifat semi aquatik, memanfaatkan air sebagai sumber oksigen. Larva membuat gulungan  kantung dari daun padi kemudian menjatuhkan diri ke air. Larva berwarna hijau, perkembangannya  sampai menjadi pupa 14 – 20 hari, stadium pupa 4-7 hari. Pengendalian hama putih ini dilakukan dengan menyetop genangan air pada persemaian, sehingga larva tidak dapat memanfaatkan air sebagai sumber oksigennya. Ada juga yang meneteskan minyak tanah di atas genangan air, sehingga banyak larva yang mati pada saat dia menjatuhkan diri ke air. Beberapa parasit dapat mengganggu kehidupan hama putih seperti lalat Tabanidae dan semut Solenopsis gemitata. Mengumpulkan ulat kemudian memusnahkannya juga merupakan pengendalian hama yang mudah dilakukan.

Hama putih palsu (C. medinalis), larvanya mengorok dan mengerat daging daun, sehingga daun tinggal kerangkanya saja. Hama ini lebih banyak menyerang padi sawah dibanding padi ladang. Telur berbentuk oval, diletakkan satu satu atau berpasangan pada daun muda tanaman padi, 4-7 hari kemudian telur menetas. Larvanya berwarna hijau muda, bersembunyi di dalam gulungan daun, menggulung daun dengan cara menempelkan kedua tepi daun, kemudian mengorok  mengerat bagian epidermis bawah daun. Pada serangan berat seluruh pucuk tanaman padi menjadi putih. Stadium pupa diselesaikan dalam gulungan daun selama 6 – 8 hari. Pengendalian hama ini sama dengan hama putih.

Hama pemakan daun pada padi terdiri dari belalang, kumbang, ulat tanah dan ulat pemakan daun lain bukanlah hama padi yag penting, karena kerusakan yang ditimbulkan hama ini biasanya tidak sistematis dan jarang menyebabkan gagal panen jika dibandingkan dengan serangan hama penghisap daun dan batang seperti wereng cokelat (Nilaparvata lugens) dan wereng hijau (Nephotettix sp).

Wereng Cokelat (N. lugens)

wereng coklatWereng cokelat termasuk ordo homoptera, famili Delphacidae. Perkembangan hidupnya telur –  nimfa – imago. Serangga perusaknya nimfa da imagi, nimfa mengalami 5 kali ganti kulit (5 instar). Stadium nimfa serangga ini berlangsung selama sekitar 30 hari. Imago betina dapat bertelur hingga 600 telur, yang ditelakkan berjajan 5 – 30 telur per kelompok. Kerusakan tanaman padi yang ditimbulkan hama ini dapat fatal, karena serangan terjadi pada areal yang luas dan berulang kali. Tanaman padi muda yang terserang akan menguning dan mati, sedang pada tanaman tua pertumbuhan akan merana dan bulir padi akan hampa. Wereng cokelat menghisap cairan tanaman sehingga pada tanaman padi yang terserang secara luas terlihat gejala terbakar (hopper burn) yang sering pula disebut puso.

Mengatasi hama wereng padi lebih diutamakan dengan menanam varietas yang resisten. Pada daerah serangan wereng cokelat biotipe 1 ditanam VUTW 1 atau VUTW 2 (VUTW = Varias Unggul Tahan Wereng), misalnya PB26, PB28, PB29, PB30, PB32, PB34, PB36, PB38, PB42, Brantas, Serayu, Citarum, Asahan, Cimandiri, Ayung dan Semeru. Pada serangan wereng biotipe 2 ditanam VUTW 2, yaitu PB32, PB36, PB38, Cisadane, Ayung dan Cimandiri. Unsur pengendalian lainnya dengan mengatur pola tanam, menanam secara serentak, rotasi tanaman secara serentak, agar ada pemutusan siklus hidup wereng cokelat. Pembakaran sisa tanaman yang terserang penting dilakukan untuk mengurangi serangan pada penanaman berikutnya. Penggunaan insektisda diakukan jika populasi wereng sudah 5 ekor atau lebih per rumpuntanaman padi yang bermur kurang dari 40 hari dan populasi 20 ekor per rumpun tanaman yag berumur lebih dari 40 hari. Pada daerah serangan virus kerdil rumpul dan atau virus kerdil hampa dilakukan penyemprotan insektisida apabila diemukan wereng cokelat di persemaian. Karena wereng cokelat telah diketahui dapat berperan sebagai vektor penyakit virus kerdil rumput dan kerdil hampa.

Wereng hijau (Nephotettix sp)

wereng hijauWereng hjau termasuk ordo homoptera famili Jassidae (Ccadellidae). Perkembangan hidup hama padi ini dari telur ke nimfa menjadi imago. Imago meletakkan telur per kelompok kira kira 25 telur, produksi telur total mencapai 200 telur. Nimfa muda berwarna putih, kemudian berangsur rangsur menjadi hijau. Wereng hijau terutama menyerang daun. Hama wereng hijau berbahaya bukan karena kerusaka akibat memakan daun yang ditimbulkannya tetapi karena berperan sebagai vektor penyakit tungro dan penyakit mikroplasma kerdil kuning maka kehadirannya pada tanaman padi perlu diperhatikan.

Pengendalian  wereng hijau sama dengan wereng cokelat, seringkali wereng cokelat dan wereng hijau menyerang secara bersama sama.

Hama padi yang menjadi perusak buah (bulir padi) terdiri dari walang sangit, kepik Nezara, tikus dan burung.

Walang sangit (Leptocorisa oratorius)

Hama padi walang sangitHama padi ini di jawa barat lebih dikenal dengan kukang, sedangkan di sumatera di panggil dengan nama panggang. Serangga betina menghasilkan telur antara 100 – 200 butir yang diletakkan pada daun bendera tanaman padi. Nmfa berwarna hijau yang berangsur angsur menjadi coklat, mengalami ganti kulit 5 kali, stadium nimfa berlangsung 17 – 27 hari. Pada kondisi yang cocok imago dapat hidup sampai 115 hari. Nimfa dan imag menyerang buah padi yang sedang matang susu  dengan cara menghisap cairan buah, sehingga menyeabkan buah menjadi hampa. Pada bekas tusukannya timbul bercak putih yang lama kelamaan menjadi cokelat atau hitam karena ditumbuhi cendawan. Pengendalian hama padi ini dilakukan dengan cara menanam padi secara serentak, sanitasi tanaman yang terserang atau dengan penyemprotan insektisida menurut dosis anjuran dinas pertanian setempat.

Ulat Mythimna separata

Ulat grayakUlat ini di Indonesia lebih dikenal dengan sebutan ulat tentara / ulat grayak. Ulat ini merusak daun dan bulir padi. Ngengat betina mampu bertelur hingga 400 telur. Larva muda makan daun padi muda, larva lebih tua memakan bulit padi. Pupa terletak di atas permukaan tanah. Larva kadang kadang bermigrasi pada malam hari. Hama padi ini mempunyai musuh alami yang berupa parasit ichneumonidae dan braconidae serta patogen yang berupa cendawan Metarrhizium anisopliae.

Related Posts

Add Comment