Hama Ulat Daun Pada Tembakau dan Cara Pengendaliannya

Serangan hama ulat daun pada tembakauHama Ulat Daun – Tembakau (Nicotiana tabacum) merupakan salah satu tanaman dari keluarga Sonaceae yang bernilai ekonomi tinggi. Tanaman ini berasal dari Argentina, yang awalnya dibudidayakan di meksiko, amerika selatan dan amerika tengah. Sebelum abad ke 17, tanaman ini telah tersebar di india, afrika, jepang, filipina dan timur tengah. Sekarang budidaya tanaman tembakau ini sudah menyebar ke seluruh dunia termasuk pula Indonesia. Di Indonesia dapat dijumpai beberapa daerah sentra penanaman tembakau, satu diantaranya di jawa tengah yaitu di kawasan temanggung, dieng dan kendal.

Serangan Hama Ulat ke Petani Tembakau

Sejumah petani di kecamatan pegandong, gemuk, kendal mengeluhkan tiga jenis hama tembakau secara sekaligus. Hama yang muncul hampir bersamaan waktunya itu adalah hama ulat daun, belalang dan orong orong. Luas areal tanaman tembakau yang diserang hama diperkirakan mencapai puluhan hektar. Dari ketiga jenis hama tersebut hama ulat daun merupakan yang paling memusingkan petani tembakau.

Menurut penuturan petani, ciri hama ulat daun yang menyerang tembakau tersebut berwarna hijau daun dengan panjang sekitar 1 cm dan keberadaanya ada di bawah permukaan daun, sehingga sulit untuk dideteksi. Dalam waktu yang singkat, ular tersebut memakan habis daun tembakau yang masih berusia satu bulan. Dalam satu tanaman, rata rata terdapat satu atau tiga ulat. Dalam kurun waktu dua minggu ulat kecil tersebut tumbuh menjadi besar. Munculnya hama ulat ini diperkirakan karena adanya musim yang tidak menentu yaitu musim panas dan turun hujan yang datang bergantian.

Upaya yang telah dilakukan para petani setempat untuk memberantas hama tersebut yaitu menggunakan zat kimia pembasmi hama, akan tetapi belum berhasil. Alternatif lain yang dilakukan yaitu pengendalian dengan cara manual, yaitu mengambil ulat satu per satu dari daun per daun. Tindakan ini tentunya membutuhkan waktu yang banyak, tenaga dan biaya. Langkah ini terpaksa diambil oleh petani karena kalau tindakan ini tidak dilakukan, maka sebagian bear daun tembakau yang rata rata masih berusia satu bulan tersebut berlubang lubang. Bahkan ada yang tersisa pelepah daunnya saja. Hal ini tentunya akan berakibat menurunnya kualitas tembakau yang dihasilkan.

Ciri Hama Ulat Daun

Bemisia tabaciMenurut ahli biologi Pratama Adi, Jika mencermati kasus yang terjadi di perkebunan tembakau Desa karangmulyo, gubugsari dan pegandon, Kendal ini tepatnya pada gejala serangan hama pada tanaman/daun tembakau dan ciri ciri morfologi dari hama ulat daun yang menyerang maka dapat diidentifikasi bahwa hama yang menyerang tersebut adalah Bemisia tabaci.

Di Indonesia hama ini sering disebut sebagai kutu kebul, karena badan tertutup oleh bahan seperti lilin atau seperti tepung putih. Hama ini termasuk ke dalam keluarga Aleyrodidae. Ciri cirinya yaitu mempunyai telur dengan panjang 0,2 mm dan berbentuk mirip buah pear. Telur tersebut menancapkan tubuhnya / masuk ke dalam bawah permukaan daun. Telur mula mula berwarna putih yang lama kelamaan berubah menjadi berwarna cokelat dan setelah satu minggu akan menetas menjadi nimpha.

Nimpha berwarna putih kehijau hijauan dan ada semacam duri pada tubuhnya. Nimpha ini akan tumbuh menjadi dewasa dalam waktu 2-4 minggu. Bagian tanaman yang diserang hama ulat daun ini adalah bagian daun dengan cara menghisap cairan daun dalam satu tempat.

Selain pada tanaman tembakau, hama ini juga dapat menjadi hama utama pada tanaman kapas, tomat, ketela rambat dan ketela pohon. Di kala jenis tersebut tidak ada, maka hama ini dapat hidup pada berbagai tanaman baik yang dibudidayakan maupun tanaman liar. Waktu yang diperlukan untuk melakukan serangan pada tanaman yaitu pada umumnya di waktu musim kering, akan tetapi dengan adanya hujan justru akan mempercepat penyebaran dan berkembangnya hama ini.

Cara Pengendaian Hama Ulat Daun

Pengendalian yang telah dilakukan oleh para petani di kendal yaitu disamping dilakukan secara manual dan dengan penyemprotan bahan kimia pembasmi hama adalah sudah benar. Karena memang kuantitas serangan yang sudah besar menyebabkan keberhasilan yang dicapaiĀ  belum maksimal. Ketidak maksimalan pengendalian ini kemungkinan disebabkan juga oleh pemilihan jenis insektisida yang dipakai.

Kalau mencermati sifat dari hama ulat daun ini baik di dalam fase telur (menancapkan bagian telurnya pada daun) dan fase nimpha (menghisap cairan daun), maka seharusnya pemilihan jenis insektisda yang akan dipakai disamping yang disemprotkan langsung di bawah permukaaan daun juga menggunakan insektisida yang bersifat sistemik, artinya yang dapat masuk ke dalam tanaman. Diharapkan dengan kombinasi kedua insektisda tersebut, disamping akan mematikan hamaulat daun yang langsung terkena semprotan juga akan mematikan hama yang tidak terkena langsung dari semprotan. Karena hama yang terhindar dari semprotan tadi akan menghisap cairan insektisda lewat hisapan daun.

Related Posts

Add Comment