Hukum Mendel dan Pola Pewarisan Sifatnya

Hukum mendel merupakan hukum genetika pertama yang menjelaskan tentang pola pewarisan sifat. Menurutnya, setiap induk membawa sepasang alel, dimana masing masing induk akan menyumbangkan 1 bagian dari alelnya (secara random) ke anak sehingga sang anak memiliki sifat gabungan kedua induknya.

Pola Pewarisan Sifat Pada Hukum Mendel

Terdapat lima hipotesis pola pewarisan sifat pada hukum mendel, yaitu :

  • Setiap sifat ditentukan oleh pasangan dari unit unit fisik yang berbeda (ahli genetika modern menyebutnya gen). Setiap individu memiliki dua unit fisik atau fen yang bersama sama mengendalikan ekspresi dari suatu sifat tertentu.
  • Pasangan dari gen gen tersebut terpisah satu sama lainnya selama proses pembentukan gamet. Setiap gamet akan menerima hanya satu gen dari pasangan gen yang terdapat pada organisme. Hipotesis mendel ini selanjutnya dikenal dengan istilah hukum segregasi.
  • Setiap anggota pasangan gen dapat terlibat dalam proses pembentukan pasangan gen pada gamet, yang mana hal ini sangat ditentukan oleh probalitas yang dimiliki oleh anggota tersebut.
  • Ketika terdapat dua alternatif bentuk dari gen, alel dominan akan menutupi ekspresi dari alel resesif. Walaupun demikian, alel dominan tersebut tidak akan mengubah kondisi fisik dari alel resesif. Selanjutnya alel resesif dapat diteruskan dalam bentuk tidak berubah pada gamet. Hipotesis ini kemudian dikenal dengan nama hukum dominasi mendek.
  • Organisme galur murni memiliki alel yang sama untuk suatu sifat (dikenal sebagai homozigot), hybrida memiliki dua alel berbeda (dikenal sebagai heterozigot). Organisme homozigot hanya dapat menghasilkan satu tipe gamet, sementara organise heterozigot dapat menghasilkan tipe gamet sesuai dengan jumlah alel yang berbeda.

Hukum Mendel di atas hanya berlaku untuk sifat tunggal. Untuk penurunan sifat yang beragam maka terdapat hukum genetika lain yang berlaku. Hukum tersebut dikenal dengan istilah hukum pengaturan ebas (Law of Indepent Assortment). Berdasarkan hukum ini setiap karakter dari suatu sifat berperan sebagai suatu unit, dan distribusi satu pasang faktor tidak berkaitan dengan pasangan faktor lainnya yang terdapat pada kromosom yang berbeda. Dengan demikian dua pasangan gen heterozigot dapat membentuk 4 tipe sel kelamin, sebagai contoh AaBb dapat membentuk 4 macam sel yaitu AB, Ab, aB dan ab.

Metode Kotak Punnet

Pada awal tahun 1900an Punnet dengan menjadikan pola pewarisan sifat pada hukum mendel sebagai dasar menemukan sebuah metode untuk menduga genotip dari keturunan yang dihasilkan. Metode ini selanjutnya dikenal dengan istilah Metode Kotak Punnet. Berikut adalah cara untuk membuat kotak Punnet :

  1. Tentukan huruf untuk menandai alel yang berbeda, gunakan huruf besar untuk alel dominan dan huruf kecil untuk alel resesif.
  2. Tentukan seluruh kemungkinan tipe gamet yang berbeda secara genetik, yang dapat dihasilkan oleh pihak jantan dan betina.
  3. Gambarkan kotak Punnet. Setiap baris dan kolom diberi tanda satu genotip yang mungkin dari sperma dan sel telur.
  4. Isikan genotip keturunan pada setiap kotak dengan mengkombinasikan genotip sperma pada baris dengan genotipsel telur pada kolom.
  5. Hitung jumlah keturunan untuk setiap genotip.
  6. Perlu diingat, jumlah yang dihasilkan dari kotak Punnet tidak berarti bahwa setiap perkawinan akan menghasilkan empat keturunan. Ubah jumlah untuk masing masing genotip keturunan menjadi rasio genotip keturunan dengan membagi jumlah masing masing genotip keturunan dengan jumlah total keturunan.

Contoh dari pengaplikasian kotak Punnet misalnya, Gen T mewakili sifat tinggi dan gen t mewakili sifat rendah. Kedua indukan memiliki ge Tt jadi perbandingan genotip anakannya menggunakan metode kotak Punnet adalah :

Tt x Tt (T dominan terhadap t)
T = tinggi
t = pendek

T t
T TT Tt
t Tt tt

Sehingga genotip yang dihasilkan adalah TT = 1, Tt = 2 dan tt = 1 sedangkan fenotip yang dihasilkan adalah Tinggi : penden = 3 : 1.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *