Konsep Pengendalian Hama Terpadu (PHT)

Kompleksnya masalah hama dan penyakit menuntut petani memiliki pengetahuan tentang ciri dan cara penangglungangan hama dan penyakit tersebut. Pengetahuan itu mencakup jenis jenis pestisida yang dipakai. Hal hal yang perlu diamati, antara ain jenis bahan aktif yang digunakan, cara kerja dan keunggulannya.

Dengan mengetahui dan memahami prinsip dasar pengendalian hama terpadu, penggunaa pestisida sintesis yang tidak berlebihan tidak akan menyebabkan tindakan tidak efektif, biaya produksi tinggi, membahayakan kesehatan manusia dan mencemari lingkungan hidup.

Oleh karena itu, pengendalian hama dan penyakit dilaksanakan dengan konsep pengendalian hama terpadu (PHT), yakni upaya pengendalian populasi atau tingkat serangan hama dan penyakit tanaman denga menggunakan satu atau lebih dari berbagai teknik pengendalian yang dikembangkan dalam kesatuan untuk mencegah timbulnya kerugian secara ekonomi dan kerusakan lingkungan hidup.

Konsep pengendalian hama terpadu dilaksanakan melalui langkah langkah sebagai berikut :

  1. Pengamatan
    Pengamatan bertujuan mengetahui intensitas serangan atau kepadatan populasi hama dan penyakit, luas serangan, daerah penyebaran serta faktor biotik (musuh alami, tanaman serta tindakan manusia) dan faktor abiotik (temperatur, kelembapan udara, sinar matahari, hjan, angin, tanah, air dan lainnya). Dengan pengamatan diddapat berbagai alternatif hasil.
  2. Pengambilan keputusan
    Kegiatan pengambilan keputusan dilakukan berdasarkan hasil analisis data dan pengamatan rutin, yaitu diteruskan dengan kegiatan pengamatan atau tindakan pengendalian. Bila hasil pengamatan masih berada di bawah ambang pengendalian, pengamatan dilanjutkan dan belum dilakukan tindakan pengendalian. Ambang pengendalian untuk serangan hama dan penyakit di Indonesia saat ini belum ada, tetapi jika sudah terserang sebaiknya dilakukan pencegahan. Eradikasi dilakukan untuk menghilangkan sumber serangan.
  3. Tindakan pengendalian
    Tindakan pengendalian dilakukan apabila tingkat serangan hama dan penyakit menimbulkan kerugian secara ekonomis atau hasil analisis pengamatan rutin sudah mencapai ambang pengendalian.

    Persyaratan tindakan pengendalian adalah sebagai berikut :

    – Menmenuhi aspek ekologi, yaitu tidak mengganggu kesehatan manusia, kehidupan musuh alami, organisme bukan sasaran, lingkungan hidup dan tidak menimbulkan residu pestisida sintesis yang berbahaya pada hasil tanaman.
    – Memenuhi aspek ekonomis, yaitu biaya terjangkau dan memberikan manfaat yang optimal.
    – Memenuhi aspek sosial, yaitu mudah dilaksanakan dan dapat diterima oleh petani.
    – Memenuhi aspek teknis, yaitu mendukung berbagai cara pengendalian yang serasi, selaras dan seimbang dengan mengutamakan pengendalian, perlakuan mekanik, biologis dan genetik serta menggunakan pestisida sintetik hanya apabila diperlukan.

Untuk meminimalkan kandungan residu pestisida sampai di bawah batas maksimum residu (BMR) yang diizinkan, petani harus memperhatikan pemilihan jenis pestisida sintesis yang akan digunakan. Pestisida harus bersifat tidak persisten atau mudah terurai pada kondisi lapangan, mempunyai waktu paruh (DT50) yang pendek. Waktu paruh adalah waktu yang diperlukan agar separuh (50%) dari senyawa kimia yang digunakan tersebut terurai. Semakin kecil angkanya, semakin cepat terurai.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *