Kutu daun dan Cara Membasminya

Kutu daun merupakan serangga hama yang berukuran 1 – 2 mm, berwarna kuning, kuning kemerahan atau hijau gelap sampai hitam. Hama ini menyerang pucuk tanaman hingga daun keriput, keriting dan menggulung. Kutu daun juga meruakan penyebar virus sehingga semakin berbahayalah serangga satu ini terhadap tanaman.

Kutu daun merupakan hama polifag yang menyerang berbagai jenis tanaman, antara lain tanaman hias, sayuran, buah buahan maupun tumbuhan liar atau gulma. Beberapa tanaman budidaya yang menjadi inang, yaitu mentimun, kentang, semangka, terong, kubis, buncis, selada, bunga potong gerbera, ubi jalar, singkong, kedelai, tembakau, lada dan tanaman liar yang paling disukai adalah kebadotan.

Daur Hidup Kutu Daun

Telurnya berbentuk lonjong agak melengkung seperti pisang, berwarna kuning terang, berukuran panjang antara 0,2 – 0,3 mm. Telur diletakkan di permukaan bawah daun, pada daun teratas. Kutu daun betina lebih menyukai daun yang telah terinfeksi virus mosaik kuning sebagai tempat untuk meletakkan telurnya. Rata rata banyak telur yang diletakkan pada daun yang terserang virus sekitar 100 butir, sedangka pada daun yang sehat kurang dari 20 butir. Lama stadium telur sekitar 6 hari.

Nimfa kutu daun terdiri atas tiga instar. Instar pertama berbentuk bulat telur dan pipih, berwarna kuning kehijauan dan tungkai untuk merangkak. Nimfa instar kedua dan ketiga tidak bertungkai dan selama masa pertumbuhannya melekat pada daun. Stadium nimfa rata rata berlangsung selama 10 hari.

Imago atau serangga dewasa tubuhnya berukuran kecil, yaitu hanya 1,5 mm, berwarna putih dan sayapnya jernih ditutupi lapisan lilin yang bertepung. Serangga dewasa hidup berkelompok pada permukaan bawah daun dan bila tanaman tersentuh akan berterbangan seperti kabut ptih. Lama daur hidup kutu daun pada tanaman sehat adalah 25 hari, sedangkan pada tanaman terinfeksi virus mosaik kuning serangga ini hanya hidup sekitar 22 hari.

Gejala Serangan

Tanda tanda serangan adalah adanya bekas luka pada kulit buah, daging buah beraroma sedikit masam dan terlihat memar. Kerusakan pada tanaman disebabkan oleh imago dan nimfa yang menghisap cairan daun. Eksreksi kutu ini menghasilkan madu yang merupakan media untuk tempat tumbuhnya embun jelaga yang berwarna hitam, akibatnya proses fotosintesis tanaman yang terinfeksi hama ini tidak berlangsung normal.

Selain kerusakan oleh isapan imago dan nimfa, kutu daun sangat berbahaya karena dapat menjadi vektor virus yang menyebabkan kehilangan produksi tanaman budidaya sekitar 20 – 100%. Sampai saat ini, 60 jenis virus yang dapat ditularkan oleh hama ini.

Cara Membasmi Kutu Daun

Pengendalian secara alami (non kimiawi) adalah dengan membersihkan lingkungan, terutama pada kulit buah, tanah bekas hama dibalikkan dengan cara dicangkul sedangkan pengendalian secara kimiawi adalah dengan penggunaa obat obatan.

Cara membsmi kutu daun secara alami dapat dibagi menjadi 3 tindakan yaitu :

  1. Pengendalin kultur teknis, dengan menanam pinggiran lahan dengan tanaman jagung atau bunga matahari sebagai barier dan memperbanyak populasi agens hayati. Pergiliran tanaman dengan tanaman bukan inang. Pergiliran tanaman ini harus satu hamparan, serentak dan seluas mungkin. Selain itu, sanitasi lingkungan terutama untuk mengendalikan gulma daun lebar babadotan dan ciplukan.
  2. Pengendalian mekanis, dengan pemasangan perangkap likat berwarna kuning sebanyak 40 buah per hektar, pemasangan kelambu di pembibitan sampai di pertanaman terutama musim kemarau dan daerah serangan virus. Sisa tanaman yang terserang penyakit dikumpulkan dan dibakar.
  3. Pengendalian hayati, dengan memanfaatkan musuh alami, yaitu kumbang predator Menochilus sexmaculatus yang mampu memangsa 200 – 400 ekor nimfanya. Siklus hidup predator ini 18 – 24 hari. Satu ekor betina mampu menghasilkan 3.000 butir telur.
    Parasitoid nimfa Encarcia formosa betina mampu menghasilkan telur sebanyak 100 – 200 butir telur. Cara pelepasan E. formosa, yaitu 1 ekor E. formosa setiap 4 tanaman/minggu, dilakukan selama 8-10 minggu. Untuk meningkatkan musuh alami di lapangan, lakukan pelepasan parasitoid dan predator secara berkala.

Pengendalian kimiawi adalah dengan penyemprotan. Diusakan mengenai daun bagian bawah. Hindari penggunaan pestisida secara berlebihan, karena mendorong meningkatnya populasi. Gunakan pula pestisida nabati, yaitu daun nimba, tagetes dan eceng gondok untuk mengendalikan. Jika tidak dapat menekan populasi hama, dapat digunakan insektisida yang efektif dan terdaftar di kementrian pertanian.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *