Obat Tradisional di Indonesia

obat tradisionalPemakaian obat tradisional untuk pengobatan telah lama dipraktikkan oleh masyarakat Indonesia. Hasil dan manfaatnya telah dirasakan secara langsung. Sehingga penggunaan obat tradisonal, termasuk di dalamnya pemakaian jamu dan industri obat tradisional yang terus berkembang dari tahun ke tahun.

Kelompok Obat Tradisional

Menurut Bimasakti (2019), tanaman tradisional di Indonesia dapat dibedakan menjadi tiga kelompok, sebagai berikut :

– Jamu (Empirical Based Herbal Medicine)

Jamu merupakan obat tradisional khas Indonesi sebagai warisan budaya bangsa. Dalam menjaga eksistensinya, jamu perlu terus dikembangkan dan dilestarikan dengan fokus utama pada aspek mutu dan keamanan (safety). Khasiat jamu sebagai obat herbal selama ini didasarkan pada pengalaman empiris yang telah berlangsung dalam kurun waktu yang sangat lama. Berdasarkan berbagai hasil penelitian yang telah dilakukan selama ini, ternyata sebagian besar jamu yang digunakan masyarakat mengandung dua komponen penting, yaitu imuno modulator dan antioksidan. Meski jamu sebagai obat tradisional yang belu teruji klinis, tetapi bermanfaat untuk menjaga dan memelihatra kesehatan sehingga tidak muah sakit karena sistem imunitas tubuh terpelihara.

–¬†Obat Herbal Terstandar (Scientific Based Herbal Medicine)

Obat herbal terstandar atau bahan ekstrak alami adalah obat yang simplisannya telah dilakukan standarisasi dan telah dilakukan uji praklinik dengan hewan uji. Standarisasi simplisia merupakan upaya menyeluruh dimulai dengan pemelihan lahan (unsur tanah) yang tepat untuk tanaman obat tertentu, budidaya yang baik sampai pascapanen (Good Agriculture Practices = GAP). Setiapsimplisia mengandung komponen yang kompleks. Standarisasi bagi setiap simplisia perlu ditetapkan zat penanda (finger print) yang digunakan sebagai parameter. Bahan ekstrak alami disebut juga obat herbal. Produk bahan ekstrak alami atau herbal ini memiliki tanda khusus berupa tanda tiga buah bintang dalam lingkaran berwarna hijau. Obat obatan herbal yang sudah distandarisasi sesuai dengan peraturan pembuatan obat obatan pembuatannya disesuaikan dengan proses produksi obat secara modern sehingga lebih higienis. Obat obatan herbal ini sudah banyak beredar dan dikenal masyarakat, beberapa contoh diantaranya adalah Diapet (PT. Soho Industri Farmasi, Jakarta), Fitolac (PT. Kimia Farma, Jakarta) adan Kiranti Sehat (PT. Ultra Prima Abadi, Surabaya).

–¬†Fitofarmaka (Clinical Based Herbal Medicine)

Fitofarmaka merupakan bentuk obat tradisonal dari bahan alami yang telah dilakukan uji praklinis dan klinis secara lengkap diterapkan pada manusia. Melalui uji klinis yang lengkap dan mengikuti prinsip prinsip uji kliis yang baik, mka fitofarmaka dapat digunakan dalam pelayanan kesehatan formal karena memiliki evidence base dan dukungan data ilmia yang kuat. Produk produk fitofarmaka memiliki ciri berupa gambar yang berbentuk seperti ranting dalam lingkaran berwarna biru. Beberapa contoh produknya, yaitu Stimuno (PT. Dexa Medica, Palembang) dan Tensigard (PT. Phapros, Semarang).

Potensi Bahan Baku

Potensi produksi atau bahan baku tanaman obat diperoleh dari dua sumber, yaitu hasil pemaneanan langsung dari alam atau penambangan hutan dan dari hasil budidaya. Banyak diantara beragam jenis tanaman obat yang telah dimanfaatkan tersebut sebenarnya bukan tanaman budidaya yang utama, bahkan tidak jarang tanaman obat yang telah dikembangkan tersebut sebenarnya adalah tumbuhan liar atau gulma gulma yang mengganggu tanaman budidaya utama.

Sumber tanaman obat hasil hutan untuk industri jamu, khususnya di pulau Jawa, sebagian besar merupakan hasil dari Tanaman Nasional Meru Betiri (TNMB) dan Hutan Saradan Madiun. Potensi tanaman obat di TNMB mencakup 239 jenis tanaman obat yang terbagi ke dalam 78 famili. Masyarakat di wilayah ini sudah memanfaatkan 85 jenis tanaman obat. Akibatnya, keberadaan beberapa jenis tanaman obat mulai langka. Di sekitar perhutani saradan, kabupaten Madiun masyarakatnya juga telah memanfaatkan lebih dari 44 jenis tanaman obat.

Tanaman obat yang telah dibudidayakan petani baru 13 jenis dari sekitar 283 jenis yang direkomendasikan oleh Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) yaitu jahe, lengkuas, kunyit, kencur, lempuyang, temulawak, temuireng, kejibeling, dringo, kapulaga, temu kunci, mengkudu dan sambiloto. Daerah penghasil utama tanaman obat adalah pulau jawa yang mencapai 80 – 90% dari produksi nasional.

Industri Obat Tradisional di Indonesia

Industri obat tradisional di Indonesia dibedakan menjadi 4 kategory, yaitu Industri Obat Besar atau Menengah Tradisional (IOT), Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT), Usaha Jamur Racikan dan Usaha Jamu Gendong. Penggunaan bahan baku oleh industri setiap tahunnya mengalami fluktuasi. Berdasarkan hasil survei Balai Penelitian Tanaman Obat dan Aromatika, pabrikan membeli bahan baku bergantung pada beberapa faktor, diantaranya tren permintaan jamu, harga di pasaran dan stok yang dimiliki. Industri Obat Besar dan Menengah Tradisional (IOT) menghasilkan produk yang sebagian besar dalam bentuk jamu dan bahan baku yang digunakan masih bertumpu pada tanaman yang memiliki khasiat beragam, dibudidayakan dalam skala luas dan sistem budidayanya relatif telah dilakukan oleh petani. Pada Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) cenderung menggunakan bahan tanaman mengarah pada tren pemanfaatan tanaman obat.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *