Penyimpangan Semu Hukum Mendel

Penyimpangan Semu Hukum Mendel – Seperti yang telah kita bahas di artikel sebelumnya bahwa hukum mendel merupakan hukum genetika pertama, jika kita menggunakan hukum tersebut seharusnya hasil dari persilangan monohibrid akan menghasilkan anakan dengan fenotip 3 : 1 dan jika kita melakukan persilangan dihibrid akan menghasilkan fenotip dengan rasio 9 : 3 : 3 : 1.
Tetapi ternyata pada kenyataannya rasio anakan hasil persilangan tidak selalu mengikuti Hukum Mendel tersebut. Apakah ternyata mendel salah dan perlu dibuat hukum baru ? Ternyata tidak 100 persen salah juga tetapi ada penyimpangan semu hukum mendel. Beberapa penyimpangan semu hukum mendel tersebut adalah sebagai berikut :
  • Jika terdapat dominasi tidak sempurna maka individu heterozigot akan menghasilkan fenotip antara (intermediate) dua fenotip homozigot. Kondisi ini terjadi jika kedua alel diperlukan untuk menghasilkan enzim atau protein dalam jumlah cukup.
    Contohnya :
    Gen M menghasilkan warna bunga merah, sedangkan gen m menghasilkan warna bunga putih. Persilangan 2 individu MM dan mm akan menghasilkan anakan memiliki gen Mm yang ternyata mengekspresikan warna pink.
  • Alel multipel untuk gen yang sama dapat muncul di dalam suatu populasi, contohnya adalah tipe darah manusia. Darah tipe AB dihasilkan dari alel kodominan (alel darah tipe A dan tipe B), yang mana dalam heterozigotnya keduanya diekspresikan. Kondisi ini terjadi karena kedua tipe protein yang dihasilkan dimana setiap protein dikodekan oleh alel yang berbeda sehingga keduanya berkontribusi pada fenotip.
  • Banyak sifat ditentukan oleh beberapa gen yang memiliki aksi yang sama. Fenomena ini dikenal dengan istilah penurunan sifat poligenik (polygenic inheritance). Sifat yang ditentukan secara poligenik akan muncul dalam bentuk gradiasi secara halus. Contoh dari fenomena ini adalah warna kulit dan mata manusia.
  • Selain itu terdapat pula gen gen yang memiliki berbagai efek fenotipik (pleiotropy) sebagai contoh, enzim yang sama dapat berperan dalam sintesis produk produk yang berbeda atau produk akhir yang dihasilkan oleh proses sintesis protein (seperti melanin) dapat mempengaruhi beberapa aspek fenotip (dalam hal melanin, yang dipengaruhi adalah warna kulit, rambut dan mata).
  • DariEpistasis adalah fenomena dimana kondisi sebuah gen ada satu lokus mengubah ekspresi fenotip dari gen lain pada lokus yang berbeda. Penyimpangan semu hukum mendel ini contohnya :
    Pada tikus, Gen A mengekspresikan warna tubuh kuning, Gen a mengekspresikan warna tubuh putih, Gen B tidak mengekspresikan warna dan gen b mengekspresikan warna hitam yang mempengaruhi ekspresi gen A. Sehingga persilangan antara dua indukan yang memiliki fenotip kuning (AaBb) menghasilkan anakan :
    gamet Ab Ab aB ab
    Ab AABB(kuning) AABb(kuning) AaBB(kuning) AaBb(kuning)
    Ab AABb(kuning) AAbb(hitam) AaBb(kuning) Aabb(hitam)
    aB AaBB(kuning) AaBb(kuning) aaBB(putih) aaBb(putih)
    ab AaBb(kuning) Aabb(hitam) aaBb(putih) aabb(putih)

    Fenotip : 9 kuning : 3 hitam : 4 putih

  • Lingkungan mempengaruhi ekspresi sebagian besar gen (bila tidak semuanya) sifat makhluk hidup. Sebagai contoh adalah efek lingkungan pada ekspresi gen kelinci himalaya yang memiliki bulu putih pucat kecuali pada telinga, hidung, ekor dan kaki yang berwarna hitam. Kelinci in pada dasarnya memiliki genotip yang memungkinnya memiliki warna bulu hitam untuk seluruh tubuhnya akan tetapi enzim yang menghasilkan enzim hitam sangat sensitif terhadap suhu lingkungan, pada suhu 34 C enzim tersebut tidak aktif. Karena telinga, hidung, ekor dan kaki memiliki suhu lebih rendah dari bagian tubuh lainnya maka pigmen hitam dapat dihasilkan pada daerah tersebut.
  • Bila kromosom mengatur dirinya secara bebas selama meiosis I, maka hanya gen yang terdapat pada kromosom yang berbead yang akan bergerak secara bebas. Gen yang terdapat pada kromosom yang sama dikatakan saling berpautan (linked). Keterpautan (Linkage) diartikan sebagai penurunan gen gen tertentu sebagai suatu kelompok dari induk kepala keturunannya karena gen gen tersebut terdapat pada kromosom yang sama. Gen gen ini cenderung diturunkan secara bersama sama dan tidak dapat bergerak secara bebas.
  • Jenis kelamin ditentukan oleh kromosom kelamin, pada manusia berada dalam bentuk kromosom X dan Y. Kromosom selain kromosom kelamin, identik untuk kedua jenis kelamin, dikenal dengan nama autosom. Terdapat beberapa gen yang hanya terdapat pada kromosom kelamin. Gen ini dikenal dengan istilah gen terpaut seks (sex-linked).

Itulah beberapa penyimpangan semu hukum mendel, walau ada penyimpangan sebenarnya hukum tersebut tidak sepenuhnya salah hanya saja seiring perkembangan jaman dan penelitian tentang genetika ditemukanlah variasi variasi genetik yang luas yang tidak dapat dijelaskan oleh Mendel.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *