Permasalahan Pertanian di Indonesia Yang Harus Dibenahi

Berbagai permasalahan pertanian di Indonesia menyebabkan lambatnya perkembangan sektor pertanian. Bahkan dibandingkan negara-negara lain di Asia Tenggara saja, pertanian kita sudah ketinggalan. Bahkan saat ini banyak produk pertanian yang harus di Impor Indonesia dari negara tetangga, contohnya saja gula dan beras yang harus di impor dari Vietnam.

Padahal penduduk Indonesia tiap tahunnya selalu bertambah sehingga negara ini membutuhkan tambahan produksi produk pertanian secara terus menerus. Oleh karena itu, permasalahan pertanian yang ada perlu dikenali dan dicari solusinya. Mari kita bahas pada artikel ini.

Permasalahan Pertanian di Indonesia

Ada beberapa permasalahan pertanian di Indonesia, diantaranya adalah sebagai berikut :

1. Pertanian Dianggap Tidak Memiliki Prospek Baik

Sangat jarang anak muda yang menganggap pekerjaan petani sebagai sebuah pekerjaan yang memiliki prospek baik. Di masyarakat kita, pekerjaan sebagai petani dianggap sebagai pekerjaan kasar untuk orang tidak berpendidikan. Hal itu menjadikan sangat jarang lulusan sarjana, bahkan sarjana pertanian sekalipun yang mau menjadi petani. Mereka malu menjadi petani karena dipandang oleh masyarakat sebagai pekerjaan yang kurang tersohor.

Banyak sarjana pertanian di Indonesia, yang kuliah di jurusan ini karena dianggap memiiki tingkat kesulitan yang rendah. Mereka kebanyakan tidak berpikiran setelah lulus mau menjadi petani. Kita lihat saja sarjana pertanian UGM atau IPB misalnya, tidak sampai 30% yang setelah lulus menjadi petani. Kebanyakan setelah lulus mereka akan melamar sebagai pegawai negeri atau bekerja di perusahaan swasta sebagai pekerja kantoran. Bahkan cukup banyak yang setelah lulus pekerjaannya tidak ada hubungan dengan pertanian, sebagai teller bank misalnya. Padahal peranan petani bagi bangsa itu sangat penting sekali, dibutuhkan banyak anak muda yang mau melakukan pekerjaan ini.

Hal itu mengakibatkan, kita kekurangan petani yang berpendidikan dan berusia muda. Sehingga jika kita perhatikan saat ini, petani yang ada di sekitar kita rata-rata berusia tua. Kebanyakan berusia diatas 40 tahun, tentu diusia senja seperti ini, produktivitas yang dipunyai sudah tidak seperti jaman saat muda. Hal ini menjadi masalah tersendiri bagi pertanian Indonesia

Pemerintah harus bisa mengajak anak anak muda, khususnya lulusan sarjana pertanian untuk mau menjadi petani. Misalnya dengan cara membuka lahan kemudian pemerintah merekrut sarjana-sarjana tersebut sebagai petani di lahan yang baru di buka tersebut. Hasil panennya nanti bisa ditampung oleh pemerintah, yang kemudian dijual ke masyarakat dengan untung yang sedikit. Penyuluhan ke para petani pun harus semakin digalakkan seperti jaman pak harto.

2. Harga Yang Tidak Stabil

Harga produk pertanian di Indonesia tidak stabil, harga cabe misalnya. Saat ini karena saking rendahnya harga cabe banyak petani yang membagi-bagikan cabenya secara gratis. Kita juga sering mendengar bahwa ada petani yang membuang hasil panennya karena saking murahnya harga. Hal ini tentu sangat miris, dan menjadi wajar saja banyak orang beranggapan bahwa bekerja sebagai petani tidak memiliki prospek.

Walau terkadang harga produk pertanian sangat murah, di lain waktu harganya bisa melonjak tajam. Cabe misalnya, harganya seringkali menyentuh harga diatas 100 ribu per kilo. Ketidakstabilan harga ini yang menyebabkan petani kesulitan untuk memprediksi berapa kira-kira keuntungan yang bisa mereka dapat.

Menstabilkan harga ini akan sulit dilakukan pemerintah jika mereka belum bisa memberantas para mafia yang memainkan harga pangan. Permainan harga ini biasanya dilakukan agar para mafia dapat membeli hasil panen petani semurah-murahnya tetapi mereka akan menjual ke masyarakat dengan semahal-mahalnya. Sebelum permasalahan harga ini bisa diselesaikan, pertanian di Indonesia saya rasa akan sulit majunya.

3. Kurangnya Pengetahuan Tentang Teknik Pertanian

Tenik budidaya yang dilakukan oleh para petani kita biasanya merupakan teknik umum. Kebanyakan dari mereka mendapatkan teknik ini dari pengalaman. Sehingga teknik budidaya yang dilakukan petani Indonesia kebanyakan sudah ketinggalan jaman. Masalah pemupukan saja, kebanyakan petani masih menggunakan pupuk secara serampangan. Padahal penggunaan pupuk yang tidak tepat dapat merusak kondisi tanah pertanian yang mengakibatkan dari tahun ketahun hasil panennya semakin turun.

Hal ini sebenarnya merupakan masalah turunan dari permasalahan pertanian yang dianggap tidak memiliki prospek baik diatas. Banyak sarjana pertanian yang memiliki pengetahuan tentang teknik-teknik pertanian terbaru justru tidak bekerja dibidangnya. Petani-petani tua tentu saja mayoritas tidak memahami bagaimana teknik pertanian modern. Hal itulah yang mengakibatkan teknik pertanian yang dipakai masih tradisional.

Beberapa hal untuk mengatasi permasalahan pertanian ini diantaranya dengan menggalakan penyuluhan ke para petani secara rutin oleh orang-orang yang kompeten. Para penyuluh pertanian ini perlu diberi pengetahuan tentang teknik terbaru dan dievaluasi setiap tahunnya tentang bagaimana hasil panen di daerah yang ia tanggani. Jika pertanian di daerah yang ia tangani tidak berkembang, maka petugas penyuluh ini perlu dievaluasi untuk diganti dengan orang yang lebih kompeten.

4. Benih Bermutu Sulit Didapat

Saat ini pengembangan benih bermutu yang dilakukan oleh pemerintah terbilang belum maksimal. Kalaupun ada, benih bermutu itu masih sulit didapatkan oleh petani. Padahal perbedaan hasil panen antara yang menggunakan benih bermutu dan tidak memiliki perbedaan yang cukup signifikan. Benih bermutu lebih tahan akan hama dan penyakit, selain itu produktivitas per hektarnya juga jauh lebih baik.

Pengembangan benih ini sebenarnnya tidak terlalu buruk dilakukan oleh para perguruan tinggi. Hanya saja setelah benih unggul ini dihasilkan, produksi benih dan pemasarannya ke petani tidak dilakukan dengan baik. Contohnya saja setiap tahun Fakultas Biologi UGM menghasilkan bibit melon unggul baru, tetapi setelah bibitnya jadi pemasaran bibit tersebut ke petani belum dilakukan dengan baik.

Oleh karena itu, untuk menyelesaikan permasalahan pertanian ini, pemerintah harus membeli hak cipta dari bibit yang dihasilkan perguruan tinggi,. Kemudian pemerintah perlu melakukan produksi secara massal yang kemudian di salurkan ke para petani dengan harga yang murah. Jika kebutuhan bibit unggul ini terpenuhi tentunya akan meningkatkan produktivitas pertanian Indonesia.

5. Pemodalan

Pemodalan ini sudah menjadi permasalahan pertanian di Indonesia sejak lama. Akibat minimnya modal, banyak petani yang terjerat tengkulak dan rentenir. Pemerintah perlu mempermudah akses permodalan kepada para petani di Indonesia untuk mengembangkan usahanya. Salah satu yang bisa dilakukan dengan cara memberikan kredit tanpa bunga yang diawasi secara ketat.

Dengan adanya modal ini, maka petani tidak akan dibingungkan mengenai biaya yang diperlukan untuk kebutuhan usahanya. Syukur-syukur dengan bertambahnya modal maka ia dapat juga meluas usaha pertaniannya. Misalnya dari yang sebelumnya bertani secara konvensional sekarang melakukannya secara organik karena harga jual hasil panennya yang jauh lebih tinggi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *