Petani Berdasi

Petani berdasi yang dimaksud disini tentu bukanlah petani yang kesawahnya memakai berdasri. Tetapi lebih kepada petani yang dapat membuat usaha pertaniannya berkembang dengan baik sehingga pendapatannya lebih besar daripada karyawan karyawan yang kekantornya memakai dasi.

Pertaan sesungguhnya, dengan kemasan yang menarik adalah bisnis yang menguntungkan. Hanya saja kebanyakan petani di Indonesia masih bersifat subsistem, belum berorientasi bisns. Tentu ini membutuhkan wawasan, sebuah jiwa entrepreneur yang tidak dimiliki kebanyakan petani di Indonesia.

Apa yang membedakan antara petani berdasi dengan petani secara umum ? Petani berdasi adalah orang yang melek pasar. Biasanya mereka selain memproduksi produk pertanian juga menjadi penjualnya. Sementara kebanyakan petani hanya memproduksi produk pertanian kemudian dijual ke tengkulak padahal antara harga jual ke tengkulak dan harga pasar terdapat perbedaan yang sangat jauh, itulah salah satu sebab jika banyak petani di Indonesia pendapatannya tidak maksimal.

Petani Berdasi Terhubung Langsung Dengan Pasar

Tidak ada ahli ekonomi yang mengatakan bahwa bisnis pertanian tidak menarik, bisnis pertanian seharusnya tidak pernah mati. Namun yang menjadi persoalan adalah pemasaran di bidang pertanian memiliki rantai yang panjang. Sehingga keuntungan yang seharusnya bisa dinikmati petani akhirnya didistribusikan kepada banyak orang mulai dari tengkulak, calo, eksportir, pedagang dan sebagainya.

Ini yang harus dilakukan petani berdasi memutus rantai distribusi yang panjang sehingga ia bisa menjual hasil dagangannya langsung ke konsumen atau minimal ke pedagang yang menjual langsung ke konsumen. Ketika petani mampu menciptakan pertanian bernilai tambah, mengolahnya, memberikan kemasan, berhubung langsung dengan buyer maka saya yakin petani akan sejahtera.

Mendiferensiasi Produk Pertanian

Meskiun jutaan orang membutuhkan beras, kopi, gula namun pada kenyataanya pasar itu terdiferensiasi. Ada kalangan masyarakat yang ingin mengkonsumsi produk terbaik tanpa peduli dengan harga. Mereka adalah kalangan menengah ke atas. lihat saja walaupun produk pertanian organik harganya jauh lebih mahal daripada produk pertanian kimia tetapi sayur dan buah organik di pasar swalayan selalu laris dibeli. Hal ini juga dikarenakan masyarakat menengah ke atas di Indonesia semakin banyak, mereka membutuhkan produk pertanian kualitas terbaik bukan produk curah.

Sementara ada pasar massal, degan produk produk curah, dimana harga menjadi hal yang terpenting daripada mutu. Seperti halnya ketika seseorang membeli gula kiloan atau kopi yang harganya murah berbeda dengan kopi premium atau gula kemasan dengan brand tertentu.

Improvisasi

Agar dapat memperoleh nilai tambah dari kebunnya seorang petani berdasi harus mampu mendayagunakan fungsi fungsi lainnya seperti kebun sebagai agrowisata seperti yang di lakukan Sumarno di Sleman yang membuat taman bunga hias sehingga mampu memberinya omset ratusan juta rupiah per bulannya, membangun industri pengolahan seperti yang dilakukan Irwan Ibrahin di Pidie Jaya yang mendirikan pengolahan cokelat memanfaatkan biji kakao dari kebunnya dan petani di sekitar kebunnya atau Damuri seorang petani kopi di Bandung yang mampu menghasilkan biji kopi premium dan dengan kopi premium dia membuat sebuah Coffeshop.

Jadi bagi anda yang ingin menjadi petani berdasi, anda harus mampu memahami asar yang ada, melihat peluang, mendaatkan akses langsung ke pasar lalu menyediakan produk produk pertanian yang sesuai dengan kebutuhan. Sehingga tidak jangan bilang petani tidak bisa kaya, dengan managemen yang baik seorang petani dapat memiliki penghasilan lebih besar daripada Manajer sebuah perusahaan besar yang berdasi.

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *