Reproduksi Mollusca

Pada kali ini saya akan mengulas tentang reproduksi Mollusca. Hewan yang dikenal dikarenakan memiliki tubuh yang lunak ini memiliki organ reproduksi yang sederhana. Ada Mollusca yang berumah satu (monoesis) dan ada juga yang berumah dua (diesis).

Reproduksi Mollusca Secara Umum

Pembuahan atau fertilisasi terjadi secara internal ataupun eksternak, kebanyakan Mollusca bereproduksi secara ovipar. Beberapa spesies siput, selain bertelur ada juga yang mengerami telurnya di dalam tubuh induknya. Reproduksi Mollusca yang demikian disebut sebagai ovovipar, misalnya pada siput tut-tut (Bellamya javanica), siput susuh (Melanoides sp), siput darat (Cyclotus corniculum) dan siput laut (Siphonalia varicosus).

Sedikit sekali spesies Mollusca yang bersifat protandri, yakni sel sperma masak dan dikeluarkan terlebih dahulu sebelum sel telur masak. Pada umumnya Mollusca yang hidup akuatik mengalami metamorfosis pada stadium larvanya. Setelah telur menetas, embrio berkembang menjadi larva yang dinamakan trokofor. Larva trofokor, kemudian tumbuh dan berubah menjadi veliger, yaitu larva yang dapat berenang bebas dan mecari makan sendiri. Pada spesies-spesies kerang air tawar, larvanya disebut glokidium dan menempel sebagai ektoparasit sementara pada sirip dan insang ikan. Larva siput darat (subkelas pulmonata) pada umumnya dan Cephalopoda tidak mengalami metamorfosis.

Perbedaan Reproduksi Masing – Masing Kelas

Berdasarkan kelasnya, Reproduksi Mollusca adalah sebagai berikut :

  • Kelas Aplacophora
    Organ reprodksi Aplacophora monoesis atau diesis dengan pembuahan secara eksternal.
  • Kelas Monoplacophora
    Organ reproduksi dari kelas Mollusca ini terpisah. Gonad dua pasang yang terletak di tengah tubuh di sisi usus. Fertilisasi eksternal. Tidak diketahui perkembangan larvanya.
  • Kelas Polyplacophora
    Organ reproduksi semua anggota Polyplacophora uniseksual (diesis). Gonad berpasangan dan simetri pada Nuttalochiton hyadesi, tapi umumnya tunggal dan terletak di tengah. Hewan ini umumnya memijah pada malam hari saat terang bulan pada waktu air surut. Pembuhaan terjadi tanpa kopulasi. Telur mengandung sedikit yolk dan tergantung dalam deretan berisi 200.000 butir dan dibuahi dalam rongga mantel. Embrio akan berkembang menjadi larva trokofor, berenang bebas, hidup dengan cadangan makanan yang terdapat dalam kantung telur (yolk sac). Trofokor akan mengendap dan melekatkan diri pada substrat dengan kakinya dan berkembang menjadi hewan dewasa.
  • Kelas Scapopoda
    Organ reproduksi terpisah. Cara reproduksi Scaphopoda mirip dengan Pelecypoda, sperma dan sel telur dikeluarkan di dalam air. Telur ke luar ke dalam air dan bersifat planktonik. Pembuahan eksternal. Embrio berkembang melalui stadium trofokor dan veliger sebelum tumbuh menjadi dewasa di dasar perairan.
  • Kelas Gastropoda
    Organ reproduksi monoesis atau diesis, fertilisasi internal ataupun eksternal. Tiap individu Gastropoda pada umumnya adalah penghasil telur da spermatozoid. Alat penghasil sel kelamin disebut ovotestes. Jad, Gastropoda dapat bersifat hermaprodit. Pada famili Strombidae menunjukkan adanya dimorfisme seksual, dimana jantan berukuran lebih kecil dari betinanya. Telur yang dihasilkan umumnya disimpan dalam massa lendir atau kapsul bagi yang hidup dalam air atau diletakkan didalam lubang yang lembab bagi yang terestrial.
  • Kelas Pelecypoda
    Pelecypoda bersifat heteroseksual, namun adapula yang hermaprodit. Berbagai spesies tiram bersifat protandus yaitu pada waktu muda umumnya berkelamin jantan dan berubah menjadi betina pada waktu dewasa.
  • Kelas Cephalopoda
    Cephalopoda memiliki kelamin yang terpisah (diesis) da pembuahan terjadi secara internal. Salah satu atau beberapa lengan hewan jantan berubah menjadi hectocotylus atau spandix. Alat ini berfungsi sebagai alat kopulasi karena ujung hectocotlus atau spandix memiliki bentukan seperti kikir yang berguna untuk menyalurkan sperma ke alat kelamin betina pada waktu kopulasi.

 

Tinggalkan Komentar

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *