Tanaman Jahe : Klasifikasi, Ciri Ciri dan Penyebarannya

JaheHampir semua obat fitofarmaka yang diproduksi di dalam negeri menggunakan bahan baku utama yang berasal dari tanaman jahe, selain sebagai bahan tambahan untuk produk obat tertentu, sebagian besar simplisia jahe digunakan oleh industri obat tradisional (IOT) dan industri kecil obat tradisional (IKOT) sebagai bahan baku jamu.

Jenis produk jadi yang prospektif dikembangkan dengan bahan baku utama jahe adalah herba terstandar untuk obat batuk dan minuman kesehatan (jahe instan). Selain itu, kandungan gingerol dan shogaol yang tinggi, terutama pada jahe merah, potensial dikembangkan sebagai obat fitofarmaka untuk penyembuhan kanker dengan dukungan penelitian yang kuat. Fungsi utama jahe di dalam pengobatan tradisional untuk mengeluarkan angin, pengobatan rematik, menghangatkan tenggorokan dan campuran ramuan afrodisiak. Nah, untuk lebih mengenal tanaman ini mari kita pelajari bersama penyebaran, klasifikasi dan ciri ciri tanaman jahe.

Klasifikasi Jahe

Tanaman jahe merupakan salah satu famili Zingiberaceae. Kedudukan tanaman jahe dalam sistematika atau tata nama (taksonomi) tumbuhan diklasifikasikan sebagai berikut :

Kingdom : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Sub Divisi : Angiospermae
Kelas : Monocotyledoneae
Ordo : Zingiberales
Famili : Zingiberaceae
Genus : Zingiber
Spesies : Zingiber officinale Roscoe

Famili Zingiberaceae terdapat di daerah tropis dan subtropis. Tanaman ini terdiri atas 47 genus dan 1.400 spesies. Genus Zingiber meliputi 80 spesies, salah satu diantaranya adalah tanaman jahe yang merupakan spesies paling penting dan paling banyak manfaatnya. Nama Zingiber berasal dari bahasa sansekerta yaitu Singeberi. Dalam bahasa arab disebut Zanzabil atau bahasa yunani Zingiberi. Kerabat dekat jahe, antara lain lempuyang gajah (Z. zerumbet), lempuyang emprit (Z. amaricans), lempuyang wangi (Z. armoaticum), lempuyag hitam (Z. ottensil) dan bangle (Z. purpereum).

Kebun JaheCiri Ciri Tanaman Jahe

Deskripsi morfologi jahe tergolong tanaman terna berbatang semu, tumbuh tegak tingginya 30 – 100 cm, berdan tunggal yang bentuknya lanset dengan panjang 15 – 23 mm, lebar 8 – 15 mm. Tangkai daunnya berbulu, panjangnya 2-4 mm. Bentuk lidah daun memanjang antara 7,5 – 10 mm, tidak berbulu dan seludang agak berbulu.

Menurut ahli biologi lulusan UGM, Adi Nugroho, Ciri ciri tanaman jahe yang utama yang biasa digunakan untuk mengidentifikasi tanaman ini adalah pada bunga dan rimpangnya. Pembungaan tanaman jahe berupa malai tersembul di permukaan tanah. Bunga berbentuk tongkat atau bundar telur yang sempit, berukuran panjang 25 cm. Bunga memiliki 2 alat kelamin dengan 1 benang sari dan 3 putik. Bunga daun pelindung berbentuk bundar telur terbalik atau bundar pada ujungnya, tidak berbulu, berwarna hijau cerah, helainya agak sempit, berwarna kuning kehijauan, panjang 1,5 – 2,5 mm dan lebarnya 3 – 3,5 mm. Bibir bunga berwarna ungu, gelap, berbintik bintik berwarna putih kekuningan. Kepala saringnya berwarna ungu dan panjangnya sekitar 9 mm.

Rimpang jahe bentuknya bervariasi, mulai dari yang agak pipih sampai gemuk atau bulat panjang. Kulit rimpang agak tebal berwarna putih kekuning kuningan hingga kemerah merahan, tergantung jenis atau varietasnya. Kulit membungkus daging umbi yang berserat dan beraroma khas. Apabila rimpang dipotong, maka daging rimpang berwarna kuning atau jingga.

Tanaman jahe polybagPenyebaran

Tanaman jahe berasal dari Asia Pasifik yang tersebar dari India sampai Tingkok. Bangsa di dua negara ini disebut sebut sebagai bangsa yang pertama kali memanfaatkan jahe, terutama sebagai bahan minuman, bumbu masak dan obat obatan tradisional. Konon, sejak 250 tahun yang lalu, jahe di tiongkok sudah digunakan sebagai bumbu dapur dan obat. Di Malaysia, Filipina dan Indonesia jahe banyak digunakan sebagai obat tradisional, sedangkan di Eropa pada abad pertengahan, jahe digunakan sebagai aroma pada bir.

Tanaman jahe di dunia tersebar di daerah tropis, terutama di benua Asia dan Kepulauan Pasifik. Akhir akhir ini jahe dikembangkan di Jamaika, Brazil, hawai, Afrika, India, Filipina, Australia, Selandia Baru, Tiongkok dan Jepang. Dalam dunia perdagangan penamaan jahe didasarkan kepada daerah asalnya, misal jahe afrika, jahe chocin atau jahe jamaika. Jahe dari Jamaika mempunyai kualitas tertinggi. India merupakan negara produsen jahe terbesar di dunia, yaitu lebih dari 50% dari total produksi jahe dunia.

Keanekaragaman nama jahe menunukkan bahwa penyebaran jahe telah meluas ke berbagai belahan dunia. Hal ini memastikan bahwa telah banyak orang yang mengetahui dan menggunakan jahe sejak zaman dahulu. Nama asing tanaman jahe, antara lain disebut halia, haliya padi, haliya udang (Malaysia), luya, allam (Filipina), adu, ale, ada (India), sanyabil (Arab), chiang p’i, khan ciang, kiang, shen chiang (Tiongkok), gember (Belanda), ginger (Inggris), gingembre, herbe au giingembre (Prancis).

Penyebaran tanaman jahe di Indonesia sudah di tanam di semua provinsi. Data statistik pertanian tahun 2013 mencatat bahwa luas panen jahe di Indonesia pada tahun 2012 mencapai 5.976,10 ha. Sentra produksi jahe yang termasuk 10 besar terluas areal panennya tahun 2012 di Indonesia adalah Provinsi jawa Tengah (1.338,87 ha), Jawa Timur (1.163,82 ha), Jawa Barat (1.044,99 ha), Sumatera Utara (392,87 ha), Kalimantan Selatan (336,84 ha), Aceh (256,65 ha), Sulawesi Selatan (188,39 ha), Bengkulu (141,69 ha), Lampung (127,ha) dan Yogyakarta (119,29 ha).

Related Posts

Add Comment