Teknik Pembenihan Udang Galah

Udang GalahPembenihan udang galah, merupakan salah satu usaha yang cukup menjanjikan. Hal ini dikarenakan banyaknya kebutuhan para petambak udang terhadap benih galah dalam jumlah yang cukup banyak dan kualitas yang baik.

Udang galah merupakan jenis udang air tawar yang banyak digemari dan dikonsumsi oleh masyarakat Indonesia. Untuk melakukan pembenihan udang vaname ini ada beberapa hal yang pelru anda perhatika yaitu :

Seleksi induk

Beberapa persyaratan induk yang bisa digunakan untuk pembenihan adalah

  1. Ukuran induk betina di atas 40 gr dan jantan di atas 50 gr
  2. Jumlah telur cukup banyak
  3. Badan bersih, baik dari kotoran maupun organisme yang bersifat parasit
  4. Umur induk antara 8 – 20 bulan
  5. Memilih induk yang sudah matang telur untuk yang kedua kali dan seterusnya
  6. Berasal dari udang yang pertumbuhannya cepat.

Pemeliharaan induk

Induk dipelihara di kolam dengan kepadatan 4 ekor / m2, diberi pakan berupa pelet dengan kandungan protein 30% sebanyak 5% dari berat tubuh. Pada pemeliharaan induk ini, induk jantan dan betina sebaiknya dipelihara secara terpisah, baik di kolam mauun di bak beton dilengkapi dengan pintu pemasukan dan pengeluaran dengan kedalaman 80 – 100 cm.

Pemijahan

Udang galah memijah sepanjang tahun, biasanya udang galah memijah pada malah hari. Udang yang siap pijah dapat dilihat dari gonadnya dengan warna merah orage yang menyebar ke seluruh bagian gonad sampai ke Cephalothorax.

Sebelum terjadi pemijahan, udang betina terlebih dahulu berganti kulit (premating moult). Pada kondisi ini udang lemah, setelah pulih kembali terjadilah pemijahan. Pemijahan dapat di kolam tanah,  akuarium, bak beton atau fiberglass dengan padat tebar 4 ekor/m2

Perbandingan induk jantan dan betina 1 : 3. Selama proses pemijahan induk diberi akan pelet dengan kandungan protein 30% seanyak 5% per hari dari berat biomasa uda dengan frekuensi pemberian pakan 4 kali sehari, lama pemijahan 21 hari.

Penetasan telur

Setelah dilakukan pemijahan selama 21 hari, induk diseleksi yang matang telur dengan warna telur abu abu. Induk tersebut diberi perlakuan dengan larutan Malachite green sebanyak 1,5 mg/liter, degan cara perendaman selama 25 menit. Baik penetasan yang digunakan berukuran 1 x 1 x 0,5 m dengan media air payau bersalinitas 3 – 5 ppt, padat penebaran induk 25 ekor per bak. Selama penetasan telur, induk diberi makan berupa ketela rambat, singkong atau kentang dipotong kecil kecil. Hal ini untuk menghindari dampak negatif kualitas air. Pada suhu 28 – 30o C telur akan menetas dalam waktu 6 – 12 jam.

Pemeliharaan larva

Pemeliharaan larva merupakan fase terpenting dalam pembenihan udang. Pemeliharaan larva udang galah dilakukan pada bak bulat atau conicle tank daari fiberglass. Hal yang perlu diperhatikan dalam pemeliharaan tersebut antara lain kualitas air dan pemberian pakan. Ukuran pakan harus disesuaikan dengan bukaan larva. Pada hari ketiga setelah menetas di beri pakan nauplil artemia dengan frekuensi 3 jam sekali kemudian pada hari kesebelas diberi pakan artemia diselingi pakan buatan sampai menjadi post larva dengan frekuensi pemberian pakan tiga jam sekali.

Penggantian air dilakukan setiap hari sebanyak 25 – 50 % sebelumnya kotoran dibersihkan dengan cara disipon, salinitas media pemeliharaan larva dipertahankan 10 – 12 ppt. Setelah menjadi juvenil salinitas media diturunkan secara bertahap menjadi 0 ppt, kemudian juvenil siap dipasarkan atau ditebar ke kolam untuk dibesarkan sampai ukuran konsumsi.

Kualitas Benur

Kualitas benur yang baik dan berkualitas akan terlihat pada saat setelah dielihara di tambak memiliki laju pertumbuhan yang cepat, memiliki kelangsungan hidup yang tinggi, mampu mengonversi pakan dengan baik, resisten (tahan) terhadap serangan penyakit, tahan terhadap perubahan lingkungan dan memiliki tingkat keseragaman pertumbuhan yang tinggi. Tenetunya kita menginginkan hasil pembenihan udang galah kita menghasilkan benur yang berkualitas. Oleh karena itu, guna mengetahui kualitas benur lebih dini, maka perlu dilakukan beberapa uji dan kriteria yang harus dipenuhi.

Beberapa kriteria secara praktis yang dapat diketahui secara visual (kasat mata) dan dapat digunakan sebagai indikator untuk mendapatkan benih udang yang baik, seperti kelengkapan antena, kondisi isi usus yang terisi penuh, kondisi uropoda (ekor kipas) yang baik, penampakan kondisi otot yang sempurna, berisi dan berwarna jernih, warna tubuh abu abu cerah kecokelatan higga hitam, kondisi tubuh yang bersih dan mulus serta tingkat aktivitas benur yang berenang aktif da responsif terharap rangsangan.

Benur yang sehat memiliki ciri ciri seperti aktif bergerak (berenang) secara mendatar untuk mencari makan, melawan arus air dan pada waktu waktu tertentu menempel pada wadah pemeliharaan serta memiliki daya saing khususnya dalam mendaatkan makanan yang seimbang dalam populasinya. Hal ini ditandai dengan ukuran yang seragam.

Dalam usaha pembenihan udang galah, pemisahan (screening) antara yang benur yang sehat dan sakit merupakan salah satu cara untuk mengetahui kualitas benur yang dihasilkan. Screening ini menggunakan uji stres atau uji ketahanan (daya tahan), meliputi metode formalin dan salinitas.

Benur yang lemah jika direndam dalam formalin berdosis 100 – 150 ppm selama 40 – 60 menit akan mengalami ematian sebesar 60 – 70%. Namun sebaliknya, benur yang fisiknya sehat hanya akan mengalami kematian sekitar 5%. Begitu pula dengan metode salinitas dilakukan dengan cara mengambil 100 ekor benur secara acar, kemudian masukkan ke dalam wadah berkapasitas 2 liter berisi air. Putar air dan biarkan selama 3 jam lalu benuh yang masih hidup dihitung. Benur dikatakan baik (lulus uji) apabila lebih dari 90% benur hidup.

Related Posts

Add Comment